Munysera, Kabar Buruk di Tanah Masela

Adegan suting film Munysera di Desa Lawawang, Kecamatan Pulau Masela, Kabupaten Maluku Barat Daya (MBD), Provinsi Maluku. Lintas/ M. Husni Tokomadoran.

Reporter: Ihsan Reliubun

Pembawa kabar buruk atau Munysera—adalah tradisi yang masih hidup. Namun, ketertinggalan dan kemiskinan, juga kabar buruk di Pulau Masela yang tidak digubris pemerintah. Itu yang terekam dalam film Munysera.


LINTAS.COM, IAIN Ambon – Ratusan ide film dikirim ke Panitia CGV Cinemas Project—yang membuka kompetisi film fiksi dan documenter kategori mahasiswa. Melewati tahap seleksi, tiga ide film terpilih: Munysera, Menguras, dan Tiket ke Bioskop.

Setelah itu, film Munysera berkesempatan untuk diproduksi. Desa Lawawang, Iblat Munta, dan Babiotang, Kecamatan Pulau Masela, Kabupaten Maluku Barat Daya (MBD), Provinsi Maluku, merupakan latar tempat pembuatan film tersebut. Proses suting dilakukan selama tujuh hari.

“Lewat (film) Munysera katong memotret masalah-masalah di Pulau Masela, yang sulit air bersih, kesehatan, pendidikan, dan transportasi, paling sedikit sekali,” kata sutradara Ali Baenudin Kilbaren, 25 tahun.

Cerita si Munysera—atau pembawa kabar orang mati—adalah sebuah tradisi yang masih kekal di Desa Lawawang. Ali bercerita, ketika orang yang melihat si Munysera muncul, maka, tak luput orang yang didatangi pun langsung menumpahkan air mata. Seperti yang diangkat ke filmnya.

“Kalau dia datang, orang sudah tahu, bahwa ada orang yang mati,” kata Ali. Menurutnya, pulau yang siap memproduksi minyak dan gas, itu masih jauh dari perhatian pemerintah. Selain tradisi Munysera masih kental—film ini merangkul lika-liku kebutuhan masyarakat yang serba terbatas.

“Di zaman modern ini dong masih menjaga tradisi lewat Munysera,” kata Ali sambil meneguk kopi di cangkir. Selain itu, tutur Ali, film ini merupakan instrumen untuk menyuarakan ketertinggalan masyarakat di Pulau Masela.

Ali, atau mahasiswa program studi Jurnalistik di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Ambon, mengaku bangga karena pihak CGV Cinemas Project mau memilih Munysera untuk diproduksi.

Hingga hari ini pihak CGV Cinemas Project, yang dihubungi Lintas melalui pesan pos elektronik belum menjawab, alasan film Munysera masuk nominasi dan ditunjuk untuk diproduksikan.

Slamat Tamnge, 24 tahun, masih ingat kata-kata penulis skenario Laskar Pelangi Salman Aristo. Pesan Salman disampaikan ketika Ali dan Slamat usai bercerita tentang ide film tersebut. Lalu, juri CGV Cinemas Project itu menyarankan supaya Munysera harus diproduksi.

“Mas Salman bilang ‘gue tertarik sama ide kalian. Dan saya harap kalian bisa lolos ke boot camp,” ujar Slamat, kameramen di Munysera. Ketertinggalan yang dibesuk desa-desa di Pulau Masela, membuat film itu harus diproduksi dan ditonton khalayak.

***

Kehadiran film bertajuk budaya—yang digarap BaileoDoc merupakan angin segar bagi perkembangan film di Maluku—dan ikut memperkaya khazanah perfilman Indonesia.

Gelar acara Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) ke-12 sekaligus penyerahan penghargaan untuk Munysera—dan dua film lainnya. JAFF bekerja sama dengan bioskop CGV Cinemas. Penganugrahan tersebut berlangsung pada 1-8 Desember 2017, di Yogyakarta.

“Anggap saja katong sudah pegang juara tiga,” ujar Ali. “Pemutarannya di Jogja. Katong belum tahu, pemutarannya tanggal berapa, tapi katong akan hadir sebelum tanggal itu, (1-8 Desember). Di malam penganugrahan ini langsung diumumkan, dari ketiga film, mana juara satu, dua, dan tiga.”

Tahun 2016 lalu, Ali menyutradarai film Pendayung Terakhir. Film itu mengangkat cerita tentang pengemudi perahu cadik. Perahu itu digunakan sebagai transportasi antarteluk Galala-Poka, Ambon, Maluku. Kehidupan mereka sehari-hari ditopang dari mendayung.

Film Pendayung Terakhir masuk nominasi Animation & Film Festival Universitas Multimedia Nusantara (UCIFEST-UNM). Pada UCIFEST-UNM ke-8 film garapan Ali akan menerima penghargaan. Penganugrahan digelar pada 21-23 November 2017.

Penghargaan yang nantinya diterima film Pendayung Terakhir pun diketahui ketika Ali dan timnya masih di lokasi suting film Munysera. “Beta kaget ketika dapat info kalau Pendayung Terakhir masuk nominasi,” tutur Ali, pendiri Komunitas Film Obscura Alhazem.

Bukan soal penghargaan. Film durasi 27 menit garapan Komunitas Film BaileoDoc ini—berhasil memotret tradisi masyarakat yang masih hidup di Pulau Masela. Namun, mampu melawan zaman yang terus berkembang.

“Yaitu Munysera ini. Mun artinya burung, sera artinya seng bae (buruk). Jadi burung seng bae,” tuturnya.

***

Ide film Munysera datang dari Dodie Mario Tiwery, pegawai Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Maluku. Cerita dari Mario—lelaki asal Pulau Masela, itu membuat Rifky Husain, 28 tahun, tergerak untuk membuatnya menjadi film.

Setelah diskusi panjang, Rifky pun menulis ide cerita Munysera. Ide dan sinopsis dikirim ke Panitia CGV Cinemas Project—yang Juli 2017 lalu membuka kompetisi film fiksi dan dokumenter. Dari ide tersebut Ali dan Slamat diundang ke Jakarta—memenuhi panggilan panitia.

“Panitia dari CGV kaget saat mendengar cerita Munysera. ‘Apa benar Maluku ada cerita seperti in’,” kata Ali, meniru ucapan panitia.

Penulis skenario Munysera atau pendiri Komunitas Film BaileoDoc, Rifky pernah menyutradarai film Hanna (2016). Sebelumnya, Rifky dan Ali Madi Salay, keduanya membuat film dokumenter Provokator Damai.

Film tersebut masuk sebagai finalis dalam kompetisi Eagle Awards 2013. Selanjutnya, masuk nominasi film terbaik Aljazerah International Documentary Film Festival, di Dhoha, Qatar.

Melalui “konfrontasi” Provokator Damai atau film yang mengangkat cerita mengenai usaha perdamaian setelah konflik ’99 di Maluku, membawa Rifky dan Ali Madi menginjakan kaki pertama kali di tanah Qatar.

Hal itu diulang kembali melalui film Munysera yang disutradarai Ali. Begitu pula yang diharapkan Salman, tidak sia-sia. Budaya, ketertinggalan, dan kemiskinan—adalah cerita yang dikeruk dari tanah Masela.

Dong bilang ‘nyong, kalau ada yang buat air bersih, Tuhan Yesus, katong bangun dia punya patung basarbasar,’ begitu kawan,” ujar Ali, meniru keluhan warga Pulau Masela.

Editor: Ihsan Reliubun

Share this :
About admin 448 Articles
Lembaga Pers Mahasiswa (LPM), organisasi internal kampus atau Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), bergerak dalam bidang jurnalistik—mencari, mengolah, menulis, mengedit, dan mempublikasi sebuah artikel ke khalayak melalui pemberitaan online, koran, dan majalah. Lintas berdiri pada tanggal 24 April 2011.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*