HARGA SEBUAH KARYA

Dok. Pendayung Terakhir

PENDAYUNG TERAKHIR” adalah sebuah kesaksian begitu argumentatif, kalau tak berlebihan, barangkali sebuah pencapaian progres dan promosi identitas paling terhormat. Ya, sebuah nilai yang tak cukup walau dibayar tuntas dengan pound sterling ataupun sepenggal sobekan piala dunia. Dan ungkapan pujian seperti cericit burung camar berperut buncit di sebuah siang berawan itu tak harus diberi tempat di sana. Walau itu hanya se-inci dalam jarak. Harus dicegat!

Pada bagian ini, ada harapan tentang sebuah kelak yang harus dibayar tuntas. Ada rindu yang dipendam. Seperti ‘berahi seks’ narasi kamanusiaan “Pendayung Terakhir” kepada rakyat jelata yang malang dan Tuan Presiden buta yang bahagia. Namun, keinginan itu tertahan–dan sudah mengendap dengan ribuan pertanyaan tentang keadilan. Itu, katanya, sudah terpotret begitu lama di sebuah tempat paling tak berkeadaban yang pernah ada dalam diktat sejarah manusia. Dan ia tak tahu cara meninggalakan keterpenjaraannya yang baik.

Rindu hari ini bukan hanya soal rindu yang belum dibayar, tapi lebih dari itu: tumpukan kerinduan yang lewat tanpa digubris. Dan itu belum terbayar tuntas. Kita tahu: “Provokator Damai” berhasil merayu berahi para juri paling terhormat. Dan mungkin kalau sedikit berbangga, harus diingat kalau memorial itu tercipta di panggung internasional, sebuah panggung begitu bergengsi.

Dari situlah, “Provokator Damai” ditetapkan sebagai film Rekomendasi Juri Eagle Award Documentary Competition 2013 dalam ajang International Documentery Film Festival yang digelar di Doha, Qatar, sebuah negara mini di teluk Persi, semenanjung Emirat Arab. Film itu pun diputar di dua negara dengan terhormat: Qatar dan Roma, Italia. Lantas apakah torehan pencapaian kreatifitas itu dihargai di tanahnya? Tidak! Lagi-lagi hanya sebatas pujian yang klise.

Ada sebuah proyeksi yang manis ketika rindu itu dibayar–walau nantinya dengan memakai uang orang-orang paling miskin di dunia. Seperti sebuah ungkapan paling populer oleh seorang pengarang Indonesia, Eka Kurniawan dalam salah satu karyanya yang kerap begitu dipuji dalam panggung sastra mutakhir: “Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas”. Itu terpotret dalam sebuah judul novelnya.

Tapi pada suatu waktu, proyeksi itu bisa saja berubah menjadi dendam ketika ‘Pendayung’ diperlakukan tak romantis dan tak digubris. Dendam itu akan tersulut kekal di sana. Ia akan menjadi hantu paling menyeramkan, bahkan itu lebih seram dari hantu yang diciptakan Rizal Mantovani dan Jose Poernomo lewat film mereka, “Jailangkung” yang dirilis tahun 2001. Karya itu menjadi salah satu legenda cerita horor terseram di republik ini.

Semoga ‘Pendayung’ mendapat tempat terakhir paling nyaman di hati se-ekor ‘Duyung Hijau’–sang penguasa tunggal teluk Ambon–yang hidup dalam beragam pelukan sampah yang tak selesai.

Pencapaian “Pendayung Terakhir” hari ini menuntut Beta untuk membuka kembali sebuah pesan paling masyhur dalam manuskrip tua yang ditulis seorang dewa di sebuah pojok timur negara Otopia. Beta harus menulis ini untuk menuturkan ulang sebuah pengakuan dalam narasi tua tentang harga sebuah karya:

“Menghargai sebuah karya–ketika terpaksa merujuk kepada “Daya Cipta”–sebuah kitab kreasi paling tersohor di tanah Otopia–yaitu dengan memberi harga yang tepat kepada karya itu, bukan lagi bicara soal tumpukan ungkapan ‘puji-pujian mandul’ yang sering tak mesra dengan tuntutan kebutuhan rakyat jelata.

Pujian dan nyanyian mati itu sendiri pun tak lelah berdesahan mencari bentuknya yang utuh–dan mirisnya, itu harus gagal berkali-kali. Karena ia tak punya daya hayal ‘otopis’ yang mahal untuk memberi ruang secukupnya pada sebuah karya. Ini aku catat untuk diingat, bukan dilupakan!” pesan Tinta kepada Kertas yang ditulis dalam sebuah halaman “Daya Cipta” di sebuah pagi pada pertengahan 1998.

Lantas, berdosakah kita memberi harga yang pantas untuk menghargai sebuah karya yang tak dihargai?

Toh, ‘Duyung Hijau’ di tepian teluk Ambon yang berwarna cokelat itu pun canggung memberi jawab. Bisu …

Rupanya dia terkena paranoia.
Saya yakin itu.

**

** Tulisan ini sepenuhnya tanggung jawab penulis, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi lpmlintas.com


Penulis: Irwan Tehuayo
Adalah Pemimpin Umum Lintas periode 2017-2018. Ia dapat dihubungi melalui emailirwantehuayo@lpmlintas.com atau dihubungi di @I.tehuayo

Share this :
About admin 448 Articles
Lembaga Pers Mahasiswa (LPM), organisasi internal kampus atau Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), bergerak dalam bidang jurnalistik—mencari, mengolah, menulis, mengedit, dan mempublikasi sebuah artikel ke khalayak melalui pemberitaan online, koran, dan majalah. Lintas berdiri pada tanggal 24 April 2011.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*