Antara Karya, Kebebasan dan Penjara

Sumber foto: cnnindonesia.com

Penulis: Ihsan Reliubun


PERTARUNGAN itu sudah selesai ketika usianya 81 tahun. Hak warga negara ia bayar mahal. Air mata dan perkelahian. Antara karya, kebebasan, juga penjara. Hingga kematian paling akrab.

Namanya, Pramoedya Ananta Toer. Ia wafat pada Ahad, 30 April 2006—12 tahun silam. Tak sedikit Pram mewariskan karyanya untuk dibaca, ditelaah, dan juga cermin dari sejarah bangsa ini. Ia penentang PP Nomor 10 Tahun 1959.

Ditandatangani Presiden Soekarno—PP Nomor 10, berisi perintah menutup usaha pedagang eceran orang Tionghoa di daerah. Pram menilainya sebagai sikap rasial: Anti-Tionghoa. Seterusnya, banyak orang dibantai hanya karena ia Cina.

Goenawan Mohamad, mencatat efek itu menyebabkan dua perempuan Cina mati tertembak saat menghadapi pengusiran, di Cimahi. “Kira-kira lebih dari 100 ribu keturunan Cina meninggalkan Indonesia,” tulis Goenawan.

Sikap rasial pemerintah Orde Lama, ditujukan untuk orang Cina merupakan perilaku represif. Ia melawan itu. Melalui Hoakiua di Indonesia Pram menggugat. Mungkin ingin bilang: nasionalisme yang besar, tangguh—adalah penghormatan atas nama kemanusiaan.

Ia dipenjara. Daya kritis pengarang kelahiran Blora, 26 Februari 1925, itu tak padam. Di balik jeruji, keinginan meninggikan harkat dan martabat manusia bergema. Ia “berkelahi” menampik rasa kemanusiaan yang digulingkan penguasa. Dua tahun lebih, ia bebas. Kemudian bertarung.

***

Masa Orde Baru. Rezim ini memenjarakan Pram selama 10 tahun, di Pulau Buru, Maluku. Ia adalah satu dari 12 ribu orang yang dibuang sejak 1969-1979. Di sini, penghormatan atas manusia jadi raib. Rasa kemanusian di atas kepentingan apa pun lenyap.

Pulau Buru yang sempat menyekap belasan ribu tapol, dan satu peristiwa penting atas sejumlah perempuan remaja Indonesia yang disekap Dai Nippon. Hingga dijadikan budak seks pun ditulis Pram dalam Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer.

Pulau Buru dan air mata, pahit dan getir yang dialami anak-anak dari bangsa besar ini terkenang dalam karangan-karangan Pram. Risau, gelisah.

Sakit dan perih ikut meringkuk umur Pram. Ia tak gentar. Justru dari sini, tetralogi Pulau Buru: Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca lahir.

Dari sini pula ia menceritakan nasion Indonesia. Sejarah bangsa besar ini tertulis dengan nada puitik. Dari sini pula para pembaca mendedah lagi kebangkitan bangsa. Setelah Hoakiau di Indonesia yang dilarang. Seperti topan, larangan atas tetralogi Pulau Buru muncul.

Karya-karya itu diberangus karena tudingan berbau ideologi Marxisme-Leninisme. Tak apa. Sejarah kepengaraan memang tak henti dari tangan besi penguasa. Dengan alasan tanpa basa-basi.

“Pengarang dihargai bukan dari pemerintah, tapi dari pembacanya,” kata Goenawan Mohamad usai mengikuti pemakaman Pram, Ahad, 30 April 2006.

Jawaban itu disampaikan Goenawan setelah ditanya mengenai karya-karya Pram yang tidak dihargai pemerintah. Penyair yang juga menyukai karya-karya Pram ini mungkin benar.

Sampai saat ini, magnum epos Pram masih diincar. Tanpa bertanya berapa harga buku-bukunya. Terpenting untuk seorang yang cerdas membaca adalah isi, bukan harga. Yang dicari adalah nilai, bukan jumlah rupiah.

Dari karya Pram, kita ikut merasakan betapa humanisme universal harus ditonjolkan. Termasuk empati terhadap nurani manusia. Bukan menjadi jongos atas kebodohan sendiri.  Itulah mengapa ilmu pengetahuan penting, terutama soal sejarah bangsa sendiri.

Lebih bodoh lagi ketika manusia meninggalkan sejarah bangsanya. Dan mempercayai seantero dogma yang meluluh-lantakkan nurani manusia. Kepentingan politik serta melanggengkan kekuasaan yang rakus justru menumpas banyak nyawa.

Ranting ranggas bersama peluh dan usia. Terpenjara di pulau yang meruap bau minyak kayu putih tanpa “hukum”. Kecuali menerima hukuman. Dari penguasa yang gamang meludah keadilan. Pram, dituduh sebagai anggota PKI.

Orde Baru tidak sekadar langgeng berkuasa. Tapi ikut merebut usia belasan ribu manusia yang harus bebas. Tanpa kekang, intimidasi, serta sikap represif kepada manusia lain. Di pagina belakang Nyanyi Sunyi Seorang Bisu, pembaca disuguhkan daftar tapol yang dibunuh.

Membaca karya-karya Pram, sama seperti kita sedang dihadapkan dengan peristiwa masa silam. Perihal bagaimana Indonesia diciptakan. Hingga bagaimana para penguasa itu mencuci darah di tangannya. Darah rakyatnya sendiri.

Tentang perlawanan, Pram menulisnya dengan apik dalam percakapan Minke (tokoh utama) Bumi Manusia dan mertuanya Nyai Ontosoroh:

“Kita kalah, Ma,” bisikku.

“Kita telah melawan, Nak, Nyo, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya.”♦


Penulis, adalah Pemimpin Redaksi Lintas periode 2017-2018. Dapat dihubungi melalui email: ihsanreliubun@lpmlintas.com atau dihubungi di @IReliubun

Share this :
About admin 464 Articles
Lembaga Pers Mahasiswa (LPM), organisasi internal kampus atau Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), bergerak dalam bidang jurnalistik—mencari, mengolah, menulis, mengedit, dan mempublikasi sebuah artikel ke khalayak melalui pemberitaan online, koran, dan majalah. Lintas berdiri pada tanggal 24 April 2011.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*