Habis Lantik Terbit Caci Maki


PERILAKU Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Kerjasama Institut Agama Islam Negeri Ambon M. Faqih Seknun memaki mahasiswa tidak dapat dibenarkan dengan dalih apa pun. Itu perbuatan melanggar hukum yang ikut mencoreng nama kampus. Caci maki pembantu rektor itu memperburuk lembaga pendidikan yang semestinya bersih dari ucapan maupun tindakan latah.

Ujaran kotor itu, pada Senin, 8 Februari lalu, ketika ia meminta seluruh unit kegiatan mahasiswa atau UKM, yang bermarkas di Gedung Kembar kembali mendiami gedung Student Center. Namun permintaannya diabaikan sebagian organisasi lantaran mereka keberatan dengan pembatasan aktivitas organisasi kampus jam enam sore.

Alasan enggan kembali ke Student Center dengan batas aktivitas hingga menjelang magrib dikhawatirkan akan menghambat kerja UKM. Perpanjangan waktu aktivitas di markas dinilai mempermudah setiap organisasi yang dibiayai kampus puluhan juta rupiah bisa bekerja lebih maksimal. Karena waktu siang mahasiswa masih difokuskan belajar di kelas.

Ketika alasan ini tiba di kuping pembantu rektor yang dilantik 30 Desember tahun lalu itu, ia langsung naik pitam sembari melontarkan makian. Padahal, sebagai seorang pendidik, ia bisa mengedepankan dialog, melahirkan satu kesepakatan tanpa melukai nurani siapa pun. Dengan begitu rencana “menyeret” seluruh UKM ke Student Center bisa terwujud. Belakangan Rektor Zainal Abidin Rahawarin meralatnya dengan menetapkan batas aktivitas di sekretariat jam 9 malam.

Seharusnya, sebelum rapat kerja berlangsung, Faqih lebih awal merancang program kerja dan disosialisasikan ke mahasiswa. Mencari tahu berapa mahasiswa berbakat di kampus ini. Lalu, kasih mereka peluang mengembangakan skil itu. Baik di bidang ekonomi, pendidikan, olahraga, maupun seni dan budaya. Mengingat di masa Wakil Rektor III Abdullah Latuapo, sumber daya mahasiswa tidak diberi tempat—terkungkung di dalam kampus.

Namun, yang lebih dulu dikebut Faqih adalah makian, maka ia sudah melanggar kepercayaan rektor. Yang meletakkan jabatan penting di pundaknya—membina mahasiswa. Faqih menjungkirbalikan moto “cerdas dan berbudi” yang dititip pendahulunya.

Rektor sebaiknya mengevaluasi Faqih yang bertindak di luar fungsi dan tugas jabatan wakil rektor. Membiarkan pejabat dengan enteng mengumbar makian menegaskan lemahnya kepemimpinan Zainal. Selaiknya, Zainal harus panjang akal—tidak menolerir segala perilaku acakadut pembantunya.

Jika Zainal tak bertindak tegas kepada bawahan yang berani menabur “beling” di kampus, mereka berpeluang menggagalkan institusi ini maju di tangan Zainal. Dan mengesankan Zainal ada di balik pengaruh kesalahan-kesalahan para pejabat kita.

Share this :
About admin 448 Articles
Lembaga Pers Mahasiswa (LPM), organisasi internal kampus atau Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), bergerak dalam bidang jurnalistik—mencari, mengolah, menulis, mengedit, dan mempublikasi sebuah artikel ke khalayak melalui pemberitaan online, koran, dan majalah. Lintas berdiri pada tanggal 24 April 2011.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*