Merobek Tubuh Puisi

Ilustrasi: Muh Pebrianto

Oliena Ibrahim

Empat Rupa

Yang menyala lebih  kobar daripada api. Lebih meredakan daripada air.

1/

Telapak tangan terbuka menghadap wajah, sepuluh jari menengadah: “Oh, hamba yang begini simpuh, saksi tiada keagungan lebih agung darimu.”

2/

Berbalik,  menghadap tanah. Ini tangan tolak bala: “Kembalilah dari murka ke murka.”

3/

Mengeratkan tangan kiri dan kanan. Telah kukuh berpuluh-peluh. Di atas sajadah, dimasaknya doa: “Tuhan, tidaklah tubuh ini hanya seonggok daging yang menunggu, merangsek jadi debu.”

4/

Tangan itu lebih dekat dengan mulutnya: “Bau melati, bunyi katrol di sebelah dinding, dan sebuah lonceng. Bismillah… bersihkan tubuhku dan lewati jalan menuju sumur itu.”

Ibu, kurasakan seseorang dalam kepalaku.

“Dia: kematian yang mencintaimu, Nak.”

Seram Selatan. April 2020

Mayat

1/

Pagi putih

Seorang perempuan memenggal kepala

Meletakkannya di tungku

Mayat-mayat berjalan tanpa kepala

2/

Lelaki itu membawa sajadah

Melangkah masuk ke lorong-lorong

Bertemu mayat-mayat tanpa kepala

3/

Malam telah matang

Keduanya saling membunuh dengan cinta yang berlarat-larat

Seram Selatan. April 2020

Merobek Tubuh Puisi

Aku ingin merobek tubuh puisi

Yang menggigil di jiwa-jiwa yang sepi

Lalu kubiarkan tangan siapa pun

Merogoh jantungnya yang hampir kehilangan degup

Biar tercecer segala luka

segala lebam

Jika puisi adalah anak-anak yang lahir dari rahim yang berdarah-darah

Dari juang cinta yang bengal

Mampukah kita menjadi orangtua yang baik baginya?

Aku ingin merobek tubuh puisi

Mengeluarkan seluruh di dalamnya

Janji-janji, kata-kata manis yang perlahan membakar dirinya yang sesungguhnya

Pada jalan-jalan penuh sukacita pula bahaya

Aku melihat puisi tumbuh besar bersama suara-suara bergema

Lawan! Lawan! Lawan!

Tapi, bukankah puisi tetaplah puisi?

Sekali waktu ia akan mati.

Yogyakarta, 28 November 2020.

Gelombang

Membuncah di dadanya

Lautan tanpa tepi

Ia, nakhoda mahir membaca peta

Tetapi kehilangan arah

Wakatobi, 1 September 2020.


Oliena Ibrahim, nama pena Indah Sari Ibrahim. Empat puisinya pernah diterbitkan di Jawa Pos dan sejumlah media lain. Salah satu esainya diterbitkan dalam Antologi Esai Sio Ina (2019), dan bisa dihubungi melalui olienaibrahim@gmail.com.

Share this :
About admin 448 Articles
Lembaga Pers Mahasiswa (LPM), organisasi internal kampus atau Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), bergerak dalam bidang jurnalistik—mencari, mengolah, menulis, mengedit, dan mempublikasi sebuah artikel ke khalayak melalui pemberitaan online, koran, dan majalah. Lintas berdiri pada tanggal 24 April 2011.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*