Setelah Menyeberang ke Ramadan

Rosani Latupono sedang mengangkat dagangannya ke atas meja, di serambi toko di kawasan Masjid Raya Al-Fatah, Jumat, 16 April 2021. LINTAS/M. Taufik Rumadaul.

Reporter: M. Sofyan Hatapayo
Editor: M. Sofyan Hatapayo


LINTAS.COM—Tampak di seberang jalan pedagang kaki lima sedang menjajakan dagangannya di kawasan Masjid Al-Fatah, Desa Hunipopu, Kecamatan Sirimau, Kota Ambon, Jumat, pukul 02.45 WIT. Bagi pengendara yang melintas—selalu menoleh ke sejumlah tenda di serambi toko yang beratapkan terpal biru —sebelum terhenti di lampu merah.

Seorang ibu rumah tangga tengah mengangkat sejumlah barang dagangan ke atas meja seusai dibersihkan dengan saputangan berwarna merah. Menurut Rosani Latupono (45), sudah bertahun-tahun berdagang di ruas jalan menuju Jln. A.Y. Patti itu. Ia berujar sangat antusias menyambut Ramadan dengan berdagang sejak hari pertama. Dengan berdiri di depan tenda, Lintas mulai mengabsen menu buka puasa yang tersedia di meja.

Di sisi kiri ada Asidah yang disusun lima tingkat dari empat baris berderetan. Kue Lontar, Kue Sirkaya, Kue Janda, Tar Labu, Pisang Goreng, Resoles dan Kue Cara dimasukan ke dalam loyang masing-masing. Setelah itu, Rosani menutupnya dengan kertas plastik transparan. “Macam-macam yang dijual,” kata ibu dari tiga anak itu.

Rosani bercerita di hari biasa adalah penjual Nasi Kuning di kawasan itu. Namun setiap Ramadan tak pernah absen menjejalkan menu buka puasa, menurutnya omzet berjualan takjil lebih besar. “Mama bisa dapat sekitar setengah juta, juga lebih.”

Alman Rumasoreng (20), sering membeli Asidah yang dijual Rosani karena selain harga terjangkau juga enak. “Beta suka,” kata pria kelahiran Wahai, Seram Utara, sambil menenteng 2 bungkus penganan khas Arab itu.

Baca juga: http://www.lpmlintas.com/2021/04/16/omzet-pedagang-takjil-meningkat/

Rosani tengah membenarkan kursi kayu dan persilahkan Lintas duduk, tampak seorang pengendara bersama istri dan anaknya berhenti di depan tenda. Tanpa basa-basi ia menyodorkan uang dan mengambil 5 bungkus Asidah dan ditenteng, setelah itu ia pergi.

Ona Kastanya saat ditemui sedang duduk perhatikan pedagang menjejalkan dagangannya, Jumat 16 April 2021. LINTAS/M. Sofyan Hatapayo.

Ada pelbagai pedagang takjil di daerah itu tapi menurut Ona Kastanya (46), Asidah buatan Rosiana yang paling enak. Ia mengaku setiap hari sering mampir beli. Warnanya yang hitam, ia menjelaskan membuatnya padat dan tidak lengket saat dimakan. “Enak kalau air gulanya kental dicampur kayu manis.”

Ona yang tinggal di Karang Panjang, Rosani membenarkan sudah menjadi pembeli tetap. Karena hal tersebut, membuatnya hadir lebih awal untuk berjualan. “Banyak juga orang Kristen yang beli,” katanya.

Diakhir percakapan ia berharap Ramadan tahun ini dapat membawa berkah dengan mendapat keuntungan dari banyaknya pembeli. Setelah Beta menyusuri selasar yang agak panjang itu, nampak pedagang lain telah usai sediakan bermacam makanan tidak lupa kenakan masker. Setelah menuju seberang jalan, sambil duduk Lintas memperhatikan mereka sedang menunggu pembeli.

M. TAUFIK RUMADAUL

Share this :
About admin 462 Articles
Lembaga Pers Mahasiswa (LPM), organisasi internal kampus atau Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), bergerak dalam bidang jurnalistik—mencari, mengolah, menulis, mengedit, dan mempublikasi sebuah artikel ke khalayak melalui pemberitaan online, koran, dan majalah. Lintas berdiri pada tanggal 24 April 2011.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*