Teror Dosen Ushuluddin di Area Pameran

Antara Foto/Andreas Fitri Atmoko

Reporter: Yustri Samallo
Editor: Ihsan Reliubun


Angin bawa kabar kasana
Bawa beta pung pasan par dia di sana
Bilang beta pung rindu, bilang beta pung sayang
Biar beta tapisah jauh ale ada di hati….

LINTAS.COM — Tembang berjudul Parcuma dinyanyikan Aisyah—bukan nama sebenarnya—dengan suara merdu di suatu sore yang mendung. Sayangnya, lagu berisi pesan rindu dari seorang pria di rantau kepada kekasihnya, yang dibawakan Aisyah berakhir sendu. “Kabar yang datang malam buruk, ya,” kata Aisyah, di sekretariat pers mahasiswa Lintas, Selasa, 23 Maret 2021.

Kisah Aisyah berbuah pahit ketika ia menghadiri pameran desain komunikasi visual yang berlangsung di area gedung Laboratorium Komunikasi Massa, Institut Agama Islam Negeri Ambon, Senin malam, 1 Maret lalu sekitar jam 11 WIT. Saat itu pelaksana pameran didatangi Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan dan Kerja Sama Fakultas Ushuluddin dan Dakwah, Sarifudin.

Kedatangan Sarifudin dengan mengenakan kaus putih berlengan pendek itu bertujuan membubarkan acara pameran yang masih berlangsung sekitar pukul 11 malam. Di area itu, ia tak hanya menganjurkan acara ditutup, tapi diduga melontarkan cercaan kepada mahasiswi yang masih berkegiatan. Aisyah, satu di antara mahasiswa yang mendapat cerca Sarifudin.

“Tinggal di rumah atau kos?” ujar Aisyah, mengulang pertanyaan Sarifudin.

“Kos, Pak!” jawab Aisyah.

“Pantas, kalau di kos kan tidak dijaga orang tua, seng dikontrol orang tua,” kata dosen itu.

Aisyah tersentak. Ia tanggapi pernyataan dosen itu bahwa, ini kegiatan kelas B program studi jurnalistik Islam Fakultas Usuluddin. Perempuan masih bermalam di luar, kata Aisyah, karena ada kegiatan. Bukan sebagai anak indekos yang bermalam di luar berarti perempuan tidak baik. Ia menilai pernyataan itu tidak pantas disampaikan Sarifudin.

“Jangan bilang pantas. Kata pantas itu gambarannya menjustifikasi katong (perempuan) tidak baik. Di situ masih ada banyak pengunjung,” tutur Aisyah.

Pameran yang berlangsung di area parkir labaoratorium itu menampilkan hasil desain poster, stiker, dan foto dengan beraneka motif. Ini tugas mata kuliah komunikasi visual dari jurnalistik kelas B. Diisi kegiatan baca puisi, bernyanyi, dan bediskusi. Tapi acara selingan itu molor hingga pukul 11 malam dan memicu sejumlah pesan berdatangan meminta acara ditutup.

Ketua Ikatan Mahasiswa Jurnalistik Islam (Imaji) Iswandi Kelilauw membenarkan adanya pernyataan yang memojokkan Aisyah dikeluarkan Sarifudin. Ia mengetahui peristiwa itu lantaran turut nimbrung ketika Wakil Dekan III menemui penyelenggara pameran. Sarifudin sempat bertanya alasan kegiatan masih berlangsung tengah malam.

“Dia bilang dong (mahasiswi), ‘Kalau perempuan keluar jam 11 lewat ini anggap saja menjual harga diri’,” kata Iswandi mengulang ucapan dosen yang juga pengampuh mata kuliah desain grafis itu, pada 24 Maret lalu. “Harga diri perempuan seng ada.”

Mantan Sekretaris Jurusan Komunikasi Penyiaran Islam atau KPI itu datang dengan dibonceng satu anggota sekuriti. Kunjungan mendadak itu menurut mahasiswa, atas permintaan Dekan Fakultas Ushuluddin Ye Husein Assegaf. Husein menyuruh bawahannya melalui panggilan telepon untuk menghentikan acara di area laboratorium.

Alasan menutup pameran mahasiswa ditengarai oleh suara musik. Musik yang menggelegar dari pengeras suara itu disebut sampai di kuping Rektor IAIN Ambon Zainal Abidin Rahawarin, yang berjarak sekitar seratus meter dari pusat pameran.

Sekitar 15 menit lalu sebelum Sarifudin bertandang, mahasiswa di situ sudah menerima dua anggota satuan pengaman utusan Rektor: Rahmat Umasugi dan La Arjun. “Kalau bisa besok baru lanjut karena Rektor di bawah (rumah) mau istirahat,” kata Arjun, mengenang kembali penyampaiannya ke mahasiswa.

Rektor Zainal ketika dikonfirmasi di ruang kerjanya pada 5 April lalu tak berada di tempat. Menurut salah satu anggota sekuriti, nakhoda IAIN Ambon itu masih dalam perjalanan dinas ke luar kota. Panggilan telepon dan pesan pendek dikirim Lintas tak dijawab Zainal.

Kepada Lintas, Aisyah menuturkan, ucapan bawahan Husein itu merupakan tuduhan kepada mahasiswi yang tinggal di kos bukan perempuan baik, ketika masih berada di luar pada malam hari. Keluar malam tanpa kontrol orang tua, menurut dia, bisa diartikan “perempuan malam”. “Perempuan malam itu semacam pelacur, ya,” tutur Aisyah, Senin, 24 Maret lalu.

Sesudah membantah Sarifudin di area pameran, sang dosen kembali mengancam Aisyah bahwa nilainya akan diberi merah. Sejumlah mahasiswa di area pameran membenarkan adanya teror mempersulit Aisyah di ujung studi. “Jangan melawan, ose seng mau wisuda? Ose mau nilai terganggu?” kata Iswandi, mengulang pernyataan Sarifudin. Mendengar ancaman itu, Aisyah bungkam.

Tak hanya Aisyah, Satra Ariani—yang hadir malam itu mengaku tersinggung ketika mendengar wejangan “kotor” dosennya. Aggapan yang mencatut mahasiswi tak berharga diri ketika beraktivitas di atas jam sepuluh malam semestinya tidak disampaikan Sarifudin.

“Menurut beta, mungkin antua kasih nasihat, lain kali jangan mengulur waktu lagi. Bukan mengeluarkan kalimat sekasar itu,” ucap Satra, ketika dihubungi, Rabu, 24 Maret lalu. “Iya sih, tersinggung.”

Sarifudin irit berkomentar ketika dikonfirmasi pada 2 April lalu. Ia membantah keterangan mahasiswa yang menyebutnya mengeluarkan ucapan merendahkan perempuan. “Saya hanya memberi pemahaman kepada mereka mengenai akhlak,” ujar dia, ketika ditemui di Masjid Imam Rijali. Ia beralasan pernyataan “perempuan tidak mempunyai harga diri”  hanya kesimpulan mahasiswa.

Ketika mengonfirmasi pernyataan “kontroversial” itu, wakil Husein di fakultas ini melarang pernyataannya direkam dan ditulis. Ia enggan berkomentar atas sejumlah pernyataan termasuk teror memberi nilai merah ke Aisyah. Ketika ditemui disekretariat takmir, Sarifudin dikawal sejumlah anak buahnya, yang juga anggota remaja masjid.

Berdasarkan potongan rekaman suara berisi pertemuan Sarifudin pada 1 Maret lalu di area pameran, ia mengatakan jam delapan (malam) perempuan harus belajar di rumah. Begadang hingga larut itu menjatuhkan derajat. “Atau memang cara pandang modern, perempuan harus kayak begini?” demikian bunyi rekaman, yang diduga disampaikan Sarifudin.

Ia sempat bertanya perihal pandangan modern yang dipelajari mahasiswa. Aktivitas begadang hingga larut, seperti penyampaian dalam rekaman itu, merupakan penghinaan diri. “Terus kenapa menghinakan ose punya diri (dengan) begadang sampai jam begini? Ada sesuatu penting?” bunyi rekaman 20 menit 29 detik itu.

Dekan Ushuluddin Ye Husein Assegaf, mengatakan tak ada yang salah dari pernyataan Sarifudin. Menurut dia, sebaiknya jam sepuluh malam perempuan berdiam diri di rumah. “Jam 11, jam 12 (masih di luar) maksudnya apa?” kata dia, ketika ditemui di ruang kerja, Selasa, 30 Maret lalu.

Bagi Husein, ucapan anak buahnya menegaskan harga diri mahasiswi muslimah terancam ketika masih beraktivitas malam hari di luar rumah. Jika pameran tersebut tidak dihentikan, ia berujar, mahasiswa tak ubahnya gerombolan di pasar. “Ente tahu gerombolan di pasar?” ujar Husein. “Gerombolan di pasar itu menyanyi sampai jam 11, jam 1 malam.”

Direktur Lembaga Pemberdayaan Perempuan dan Anak (Lappan) Baihajar Tualeka, mengatakan ucapan dosen S itu merupakan pernyataan diskriminasi yang merendahkan martabat perempuan. “Karena itu melecehkan. Jangan-jangan semua perempuan yang melakukan aktivitas sampai pagi dianggapnya menjual diri,” kata Baihajar, di kantor Lappan, STAIN, Desa Batumerah, 2 April lalu.

Menurut penerima Indonesian Women of Change Award dari Pusat Kebudayaan Amerika pada 2013 itu, siapa pun tidak boleh dibatasi. Batasan itu merupakan pelanggaran hak asasi orang lain yang melanggar konstitusi. Terutama, kata dia, jika pelecehan itu ditujukan kepada perempuan.

Padahal ada tuntutan aktivitas perempuan yang tidak terkait menjual diri, tapi kegiatan penunjang yang bermanfaat bagi kaum hawa. Seakan aktivitas perempuan jam 11 malam di luar rumah adalah menjajakan dirinya seperti pekerja seks. “Sehingga pernyataan pengajar seperti itu sangat tidak etis.”

Baihajar menjelaskan, perguruan tinggi harus menjadi pusat edukasi. Ditunjang dengan kualitas dosen dalam memahami kasus kekerasan berbasis gender. Tidak melakukan diskriminasi atau kekerasan seksual yang merendahkan martabat kampus. Dengan begitu kampus dianggap tidak memberikan perlindungan terhadap kelompok rentan terutama perempuan.

Ia menyarankan ke depan pengajar harus lebih banyak melakukan kajian terkait isu kekerasan berbasis gender sebagai bagian yang harus diintegrasikan ke dalam kode etik kampus. Terutama berkaitan dengan pengabdian kepada masyarakat.

“Kampus punya peran publik dalam upaya pencegahan (pelecehan) dan memberikan perlindungan bagi perempuan,” ucap peremupuan yang delapan tahun silam dinobatkan menerima penghargaan Saparinah Sadli 2012, itu. IAIN, katanya, harus ikut mendorong disahkan Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Seksual seperti kampus lain.

IHSAN RELIUBUN

Share this :
About admin 462 Articles
Lembaga Pers Mahasiswa (LPM), organisasi internal kampus atau Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), bergerak dalam bidang jurnalistik—mencari, mengolah, menulis, mengedit, dan mempublikasi sebuah artikel ke khalayak melalui pemberitaan online, koran, dan majalah. Lintas berdiri pada tanggal 24 April 2011.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*