Tapak Tilas Masjid Wapauwe

Masjid Tua di Desa Kaitetu, Kecamatan Leihitu, Kabupaten Maluku Tengah, Maluku. Selasa, 20 April 2021. LINTAS/Yolanda Agne

Reporter: Yolanda Agne
Editor: Yolanda Agne


LINTAS.COM — Masjid Wapauwe di Desa Kaitetu, Kecamatan Leihitu, Kabupaten Maluku Tengah, Maluku, menyimpan cerita magis dari sejarah berpindahnya masjid tua ini. Hingga kini, Masjid Wapauwe masih menjadi tempat sakral bagi penduduk setempat.

“Besok jadi ya, jam 09 kita berangkat” saya mengirim pesan kepada seorang kawan. Keesokan harinya Saya dan Dewinta melakukan perjalanan menuju masjid tua di desa Kaitetu, Kecamatan Lehitu, Kabupaten Maluku Tengah, Maluku. Kami melakukan perjalanan di pagi hari karena siang nanti saya harus masuk kuliah. Kami berangkat tanpa mengantongi letak persis masjid tua “Nanti pakai penunjuk jalan di ponsel saja” kata saya, Selasa, 20 April 2021.

Selama perjalanan dari Kota Ambon menuju Desa Kaitetu kami berbincang di atas motor mengusir kebosanan. Jalan panjang sepi dengan kiri-kanan pohon rimbun membuat perjalanan kami teduh. Memasuki pertigaan desa Morella dan Hitu saya bingung harus mengambil arah ke mana. “Ambil kiri, Yol” ternyata Dewinta menyadari kebingungan saya.

Tak seperti jalan di Jazirah, semenjak masuk desa Hitu, perjalanan kami ditemani hamparan laut, pohon kelapa dan bakau. Dari Pesisir pantai utara ambon ini kami disuguhi angin laut segar dan aroma asin laut. Desa Hitu dan Hila memiliki banyak polisi tidur yang tak jarang membuat saya beberapa kali terkejut dan mengerem tiba-tiba. Entah karena mata saya yang memang rabun atau polisi tidur yang menyerupai aspal hingga membuat saya sulit membedakan keduanya.

Sampai di Desa Kaitetu kami hilang arah. Mesin motor dimatikan dan kami menepi di depan benteng Amsterdam. Dewinta sibuk mengotak-atik ponselnya mencari jalan menggunakan GPS. Kebetulan hari itu segerombolan anak sedang berjalan pulang dari sekolah dan saya menanyakan jalan menuju masjid tua. “Beta seng tau kaka, dia itu boleh orang Kaitetu” ujar salah seorang anak sambil menunjuk temannya yang sudah berjalan di depan mereka.

Kami lekas menghampiri anak tersebut dan bertanya. Kemudian ia menjelaskan arah, katanya sudah tidak jauh lagi. Mesin motor dinyalakan dan kami melanjutkan perjalanan. Ditengah perjalanan kami mulai bingung, arah mana yang harus dilalui. Penjelasan adik tadi sepertinya sudah menguap entah ke mana. Kami melewati jembatan panjang dengan pemandangan sebuah gunung di depan. Perasaan kami mulai tak yakin dengan arah yang kami lalui. Saya berinisiatif bertanya kepada bapak pemilik warung kecil dekat pantai. “Sudah lewat, dari jembatan lurus jangan belok” kata bapak sambil memegang sapu dan menunjuk arah.

Kami berdua dengan kompak tertawa kecil meninggalkan warung di tepi pantai itu. Setelah menahan panas matahari selama perjalanan, kami tiba di masjid tua. Beberapa meter dari masjid ada penduduk yang tengah bersantai di teras rumah mereka. “Permisi ibu, katong boleh masuk lihat-lihat?” ujar Dewinta. Setelah diperbolehkan masuk, kami melihat-lihat tiap sisi bangunan masjid. Saya sibuk membaca prasasti sejarah berdirinya masjid sedang Dewinta sibuk mencari penjaga masjid. Wapauwe berasal dari nama tanaman mangga hutan. Dahulu masjid ini berdiri dibawah rimbunnya pohon Wapa yang buah, batang, bunga, daunnya tidak bisa dimakan karena memiliki getah. Wapa (Mangga Hutan) Uwe (Di bawah).

Kisah Bangunan dan Berpindahnya Masjid

Akhirnya kami bertemu pak Iwan Iha penjaga masjid generasi ke tujuh. Ia memiliki perawakan badan tidak terlalu tinggi dan sedikit berisi. Kami duduk di bagian belakang masjid yang banyak berjejer kayu-kayu, dahulu digunakan sebagai tiang dan kubah masjid. Tidak jauh dari kami duduk, ada jejeran keran air tempat untuk wudhu dan sebuah sumur. Dahulu sebelum ada keran air, orang mengambil air dari sungai dengan bambu untuk berwudhu.

Potongan kayu dan atap bekas pemugaran masjid, Selasa, 20 April 2021. Lintas/Yolanda Agne

Ia kemudian menjelaskan penggalan-penggalan kayu bekas tiang, dan kubah secara rinci. Yang unik dari bangunan masjid ini adalah temboknya dibuat dari batu karang yang dibakar, ditumbuk dan dicampur dengan putih telur sebagai perekat, tanpa menggunakan semen. Dalam proses pembangunannya juga tidak menggunakan paku. Pasak dan tiang hanya diikat dengan rotan.

Suasana kampung Kaitetu hening, mungkin karena Ramadan orang-orang sedang beribadah dengan tidur. Pagi menjelang siang itu hanya ada suara pak Iwan dengan sedikit logat Jawanya. Pak Iwan beberapa tahun menetap di Malang, anak perempuannya kerja di Jawa dan anak laki-lakinya menjadi tentara bertugas di Blitar, jadi tidak heran jika pak Iwan memiliki sedikit aksen Jawa.

“Pak saya pernah dengar katanya masjid ini berpindah secara gaib ya?” tanya saya yang sudah tidak sabar mendengar ceritanya secara langsung. Masjid ini awalnya dibangun pada masa kedatangan Portugis untuk melakukan jual beli rempah di desa Kaitetu. Letak awal masjid berada di gunung Wawane. “Oh gunung yang bisa di lihat dari jembatan itu ya pak” potong saya. Karena ketika itu hanya ada satu masjid sehingga penduduk yang ingin salat harus naik ke gunung, maka masjid secara ajaib berpindah di belakang kampung, kemudian berpindah lebih dekat lagi dengan penduduk di tempat sekarang masjid ini menetap.

Penduduk yang melintas di jembatan desa Kaitetu dengan pemandangan gunung Wawane, Selasa 20 April 2021. LINTAS/Yolanda Agne

“Mungkin karena tetua dulu sakti jadi masjid ini bisa berpindah. Sebelum shalat Jumat masyarakat sudah menemukan masjid ini berpindah,” kata Pak Iwan. Tangan saya berhenti mencatat, serius menyimak cerita langka ini. Setelah cerita panjang, pak Iwan mengajak kami melihat bagian dalam masjid. Ketika kaki saya  menginjak bagian dalam masjid perasaan saya berubah, ada rasa takjub dan sedikit merinding, mengingat cerita Pak Iwan tadi. Banyak benda yang memperlihatkan kesan tua seperti lampu, tiang, atap, jendela. Kecuali atap, benda lainnya masih sama sejak pertama kali masjid tua berdiri.

Kain putih pembatas saf laki-laki-perempuan dan lampu gantung pertama sejak masjid berdiri, Selasa, 20 April 2021. LINTAS/Yolanda Agne

Dari pintu masuk disebelah kanan terdapat beduk besar yang tergantung, dahulu beduk ini memiliki panjang lebih dari dua meter namun, karena suaranya nyaring ketika dipukul membuat raja Portugis terkejut ketika minum dan gelas yang dipegang jatuh. Kemudian ia memerintahkan untuk memotong bedug agar tak nyaring lagi hingga ukurannya menjadi 2,5 meter.

Disebelah kiri dari pintu masuk ada lemari kaca tempat menyimpan al-quran tua hasil tulisan tangan imam Muhammad Arikulapessy yang selesai ditulis pada tahun 1550. Tulisan arab masih jelas terbaca hanya kertas mushaf mulai rusak dimakan usia. Semilir angin berhembus masuk ke dalam masjid, menimpa saya yang sedang asik mendengar cerita Pak Iwan. Dua lemari usang lainnya, menyimpan banyak tumpukan mukenah bersanding dengan lemari yang diisi al-quran.

Ramadan di Masjid Wapauwe

Bangunan masjid masih menjadi pilihan tempat beribadah untuk penduduk setempat. Saat Ramadan, salat tarawih dilakukan hanya satu baris jamaah laki-laki di depan, karena di masjid tua ini mengutamakan perempuan untuk salat tarawih. Sedang mayoritas laki-laki salat di masjid lain. Saf laki-laki dan perempuan dibatasi oleh kain putih memanjang. Tidak ada ritual khusus ketika Ramadan, hanya seperti masjid lainnya masjid tua ini terkadang dijadikan tempat hajatan dan berkumpulnya ibu-ibu majlis.

Hal yang hanya ditemui di bulan ramadan adalah tadarus di masjid. Sebelumnya, para pendatang dari luar Maluku ramai, hampir setiap hari kedatangan tamu dari luar Maluku, kebanyakan berasal dari pulau Jawa. Mereka datang untuk berdoa dan berzikir. Ketika saya dan Dewinta berbincang dengan Pak Iwan, seorang ibu mengambil wudhu kemudian mengenakan mukenah dan membaca al-quran. Disusul seorang ibu lagi yang datang berwudhu karena mengira waktu zuhur telah tiba.

Salah satu penduduk setempat sedang tadarus di Masjid Wapauwe, Selasa, 20 April 2021. LINTAS/Yolanda Agne

kemudian terjadi percakapan antara ibu tadi dan Pak Iwan. Mereka menggunakan bahasa daerah. Sambil berbicara dengan bahasa yang tidak saya mengerti, Pak Iwan menunjuk jam dan melihat jadwal salat. Dewinta yang paham hanya tertawa kecil. Tak terasa sudah lama saya, Dewinta dan Pak Iwan berbincang tentang masjid tua. Akhirnya kami pamit kepada Pak Iwan, rencana kami untuk merasakan salat di masjid tua harus ditunda karena waktu kuliah hampir tiba.

“Kapan-kapan datang buka puasa di sini, biar merasakan buka puasa di kampung” kata Pak Iwan. Kami bersemangat mengiyakan ajakannya. Saya dan Dewinta berpamitan kembali ke Ambon. Jam biru di tangan menunjukan pukul 12.00, matahari sudah berada di atas kepala. Perjalanan panjang yang penuh polisi tidur masih harus kami lalui. Diawal perjalanan, kami saling melontarkan keluhan akibat panas yang terasa meskipun masker dan sarung tangan sudah dipakai.

Memasuki negeri Hitu jejeran pohon kelapa dengan tempat duduk di bawahnya memenuhi pesisir pantai lengkap dengan penjual es kelapa. “Kalau tidak puasa, kita pasti sudah mampir membeli segelas es kelapa,” ujar saya.

Dewinta Karepesina

Share this :
About admin 462 Articles
Lembaga Pers Mahasiswa (LPM), organisasi internal kampus atau Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), bergerak dalam bidang jurnalistik—mencari, mengolah, menulis, mengedit, dan mempublikasi sebuah artikel ke khalayak melalui pemberitaan online, koran, dan majalah. Lintas berdiri pada tanggal 24 April 2011.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*