Bahaya Melawan Kebijakan Kampus

Ilustrasi usir paksa. Foto: Google

SIKAP Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Kerjasama Institut Agama Islam Negeri Ambon M. Faqih Seknun, membubarkan Pengurus Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Olahraga tidak dapat diterima. Perilaku itu membunuh kreativitas mahasiswa. Sebaiknya, dengan jabatan istimewa tersebut dapat menunjang setiap bakat dan kemampuan yang dimiliki mahasiswa di kampus dengan motto “Cerdas dan Berbudi” ini.

Pernyataan tak senonoh itu, tergambar pada Selasa, 21 September kemarin, ketika Faqih, bersama pengurus Dewan Eksekutif Mahasiswa atau Dema ketika mendatangi sekretariat olahraga setelah melayangkan surat: mendesak keluar dari bekas ruangan dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, untuk dijadikan sekretariat. Namun, permintaannya diabaikan organisasi intra kampus yang dipimpin Taher Lesilawang itu, dengan alasan mereka lebih dulu menempati ruangan tersebut.

Mereka enggan keluar karena gedung itu dibangun untuk mahasisiwa sehingga mereka berhak menempati. Sikap pembantu rektor yang dilantik 30 Desember, tahun lalu itu, dinilai seperti mengistimewakan satu pihak. Padahal ruangan lain masih bisa digunakan dan dijadikan sekretariat Dema.

Seharusnya, sebelum bertindak, Seknun menyediakan ruang untuk dibicarakan baik-baik antara Dema dan UKM Olahraga. Bukan ikut mengintervensi dan mendesak mereka keluar. Tugas Seknun hanya mempersatukan jika terjadi saling cek-cok di antara mereka.

Bukan malah bersikap arogan ketika perintahnya dibantah, Seknun lebih memilih membubarkan pengurus karena dinilai melawan aturan lembaga, ketimbang menjalankan amanat dan kepercayaan Rektor Zainal Abidin Rahawarin. Yang meletakkan jabatan penting dipundaknya—membina mahasiswa.

Dema juga tidak semestinya memanfaatkan jabatan dan kekuasaan Warek III sebagai kekuatan dalam mengambil tindakan. Semuanya bisa ditempuh dengan cara-cara yang masuk akal. Bukan malah seenaknya mengadu segala keinginan kepada Seknun, untuk memenuhi hasrat dan sebagainya.

Memiliki banyak anggota sehingga membutuhkan ruangan yang besar. Pengurus Dema jadikan sebagai alasan agar UKM Olahraga keluar dari ruangan. Dema tidak menginginkan ruangan itu ditempati. Sebab,ruangan besar dan luas bukan hanya yang dijadikan sekretariat olahraga—masih ada ruangan kosong di Gedung dua lantai itu. Mengapa ruangan itu yang Dema inginkan?

Rektor Zainal, sudah seharusnya memverifikasi kesalahan bawahan yang pernah berlaku tidak sopan terhadap sebagian UKM yang kembali ke Student Center pada Februari lalu. Alasannya, lantaran mereka keberatan dengan pembatasan aktivitas jam kerja organisasi hanya sampai jam enam sore.

Zainal tidak seharusnya berdiam diri di kursi sofa yang empuk. Membiarkan bawahannya berani membuat keputusan “sesuka hati” di kampus. Tindakan itu mencoreng nama baik lembaga. Sehingga peluang Zainal mengharumkan nama lembaga, dinodai dengan kebijakan yang dibuat ke mahasiswa.

Share this :
About admin 512 Articles
Lembaga Pers Mahasiswa (LPM), organisasi internal kampus atau Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), bergerak dalam bidang jurnalistik—mencari, mengolah, menulis, mengedit, dan mempublikasi sebuah artikel ke khalayak melalui pemberitaan online, koran, dan majalah. Lintas berdiri pada tanggal 24 April 2011.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*