Kisah Lain di Balik Jurnalisme Parasut

Ilustrasi: Lintas

Penulis: Yolanda Agne


JURNALISME parasut bukan sekadar istilah dalam jurnalistik. Praktik ini berpotensi menimbulkan bias informasi pada media: cetak, elektronik, atau digital. Istilah ini merujuk pada diturunkannya wartawan meliput di tempat yang belum dikenalnya, baik konteks peristiwa, sosial-politik, ekonomi, serta budaya masyarakat setempat.

Saya punya pengalaman 56 hari bertugas sebagai wartawan magang di harian Kabar Timur, ditempatkan di kantor Wali Kota Ambon Richard Louhenapessy. Dia adalah orang yang setiap hari muncul dalam kanal pemberitaan media massa. Ia membicarakan dan menanggapi aneka peristiwa di seputar kota berjuluk Ambon Manise.

Hari pertama mengikuti konferensi pers bersama Richard, saya hanya menyodorkan ponsel, merekamnya tanpa tanya ini-itu. Diam. Berbeda dari wartawan lain yang bertahun-tahun tugas di gedung Balai Kota. Mereka punya berantai pertanyaan.

Hari pertama ditempatkan di Balai Kota, saya datang dengan tangan kosong. Tidak mengantongi pertanyaan apa pun. Apa masalahnya? Kesulitan menentukan sudut pandang menarik diramu menjadi berita. Saya ibarat serdadu yang bertempur tanpa senjata.

Sedangkan setiap hari saya harus menulis berita. Itu yang dinilai sebagai syarat saya lulus magang. Praktik ini khusus bagi mahasiswa semester tujuh, khususnya di program studi jurnalistik di Institut Agama Islam Negeri Ambon.

Itu cerita menegangkan selama jadi wartawan magang di Kabar Timur. Dua rekan saya yang kebagian job di surat kabar ini, Tithy dan Agil. Tithy bertugas di gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah dan Agil sebagai fotografer, yang bertanggung jawab keliling kota memotret berbagai persitiwa. Kami dibekali mentor yang berbeda.

Pertama yang dilakukan mentor adalah mengenalkan saya dengan wartawan dari berbagai media. Diajarkan bertemu narasumber, menunjuk tempat kumpul wartawan, dan bonusnya saya bertemu mesin racik kopi. Sajian secangkir kopi selalu terasa nikmat. Lima ribu rupiah cukup ditemani secangkir kopi.

Hari pertama meliput tanpa referensi ini membuat saya canggung. Saya ditugaskan redaktur ke sana dan kemari, sekilas saya seperti pengawal di Balai Kota. Meliput berita tanpa memahami latar belakang persitiwa berdampak jelek bagi produk jurnalistik: bias informasi, fakta menyimpang. Ini salah satu sisi buruk dari jurnalisme parasut.

Triyo Handoko dalam artikel “Bias dan Bahaya Praktik Jurnalisme Parasut” di Remotivi.or.id, seperti dikutip dari Kevin D. Grant, Presiden Report forAmerica, dalam sebuah esai di NeimanLab, menjelaskan, jurnalisme parasut berbahaya karena, wartawan mudah membelok fakta yang menimbulkan kesalahpahaman khalayak lebih besar.

Istilah “parasut” dalam penjelasan itu lebih ditegaskan Kevin D. Grant kepada wartawan yang meliput persitiwa di luar daerah tanpa bekal pengetahuan yang dalam terkait konflik tersebut. Padahal, untuk menghindari disinformasi, media sebaiknya menugaskan koresponden di daerah setempat yang lebih mengenal wilayah itu serta konteks sebuah peristiwa.

Sebab wartawan dari tempat jauh, datang mereportasi kejadian dengan tuntutan kecepatan kemungkinan besar verifikasi informasi secara ketat terabaikan. Terbata-bata memperoleh informasi akurat. Lebih berbahaya jika lokasi kejadian di wilayah asing dengan intensitas konflik mengancam keselamatan jurnalis.

Menurut Kevin D. Grant, di Amerika Serikat media sekelas The New York Times, ProPublica, tidak mempraktikan jurnalisme parasut. Justru kesepakatan kerja sama dengan seorang jurnalis di media lokal sebagai koresponden. Koresponden bertujuan agar peristiwa dengan tingkat kesulitan yang harus ditembus wartawan asing dapat teratasi.

Pertama, koresponden lebih mengenal latar belakang konflik di daerah itu. Kedua, tingkat pengetahuan soal budaya masyarakat setempat. Ketiga, menggunakan pendekatan kultural mendekati sumber-sumber utama dari peristiwa itu. Keempat, lebih leluasa melaporkan informasi dengan menggali apa di balik konflik tersebut.

Kelima, jika peristiwa mengancam keselamatan, peluang menghindar lebih besar ketimbang wartawan yang datang dengan modal sekadar mewancarai dan menulis informasi dari peristiwa. Artikel di Remotivi itu mencoba mengambil kasus Cable News Network  atau CNN yang pernah menerjunkan wartawan meliput konflik kelompok militan Boko Haram di Nigeria.

Peneliti Aliyu Odamah Musa dengan menggunakan analisis wacana kritis menjelaskan bahwa, hasil liputan CNN dalam peristiwa Boko Haram itu mengandung kesalapahaman, mengabaikan konteks lokal, dan tidak presisi: penggabungan peristiwa yang tak berkaitan. Pengetahuan tentang peristiwa, tempat, dan budaya masyarakat sangat penting untuk wartawan mengakses informasi yang bermanfaat untuk kebijakan publik.

Jurnalisme parasut—dapat diterjemahkan ke dalam lokasi liputan wartawan yang ditempatkan di suatu lembaga pemerintahan. Pos tetap selama beberapa bulan itu bertujuan mematangkan pengetahuan jurnalis tentang apa saja yang akan diliput untuk khalayak; bagaimana menggali informasi dari narasumber di lembaga itu dan penyajiannya yang lengkap dan utuh.

Setelah dari sini, ia digilir lagi ke instansi lain yang banyak berhubungan dengan kepentingan publik. Selain publik mendapat informasi utuh atas kebijakan, misalnya di Dinas Pendidikan, juga berkesempatan menggarap informasi di instansi lain secara beruntun. Hal ini lebih pada peningkatan kapasitas wartawan pada tiap-tiap bidang di mana bertugas.

Pengamatan saya di lapangan. Masih ada sejumlah media di Ambon yang belum menempatkan wartawan pada pos tertentu. Sehari wartawan bisa menulis kompartemen politik—dan beberapa saat kemudian meliput berita ekonomi. Sehingga infomasi yang disajikan tidak mendalam. Dengan begitu, masyarakat yang tingkat literasi digital rendah gampang terhasut informasi yang belum terverifikasi—berkeliaran di media sosial.

Dalam buku Jurnalistik Praktis untuk Pemula, pos liputan juga disebut sistem bidang liputan. Sistem ini melahirkan julukan “wartawan pemkot”, “wartawan olahraga”, “wartawan politik”, dll. Berikutnya, sejak pengalaman menegangkan di masa pertama magang, saya berusaha supaya terus mengantongi berita setiap hari. Sebab dibiasakan beberapa saat bercokol di Balai Kota.

Saya beruntung magang di Kabar Timur, salah satu media yang memberikan pos liputan kepada wartawan. Saya bisa fokus terhadap isu dan mudah mengikuti perkembangan informasi di situ. Saya bisa lebih kritis melihat suatu persoalan yang berkaitan dengan kebijakan pemerintah.

Jurnalisme bukan profesi yang remeh, ia mulia. Informasi yang diterima pembaca harus kredibel dan mudah dipahami. Karena itu tidak mudah menjadi wartawan. Verifikasi berlapis harus dilakukan. Penyusunan kalimat atau penggunaan diksi harus diperhitungkan. Itu bertujuan untuk memudahkan masyarakat yang heterogen ini menangkap maksud dari informasi tersebut.

Wartawan adalah profesi yang setiap saat merangsang orang untuk mengetahui apa saja setiap hari. Jurnalis, kata Andreas Harsono, harus banyak melakukan praktik dan latihan menulis ketimbang diskusi. Sebagai wartawan magang, saya menilai pandangan penulis buku Agama Saya Jurnalisme Andreas, itu benar adanya.

Masa praktik selesai. Banyak hal belum saya tulis, tentu itu terkait pengalaman selama magang. Saya hanya menulis satu ini. Barangkali pada kesempatan lain saya akan menuliskan cerita lain yang tak kalah menarik, baik laku wartawan, media, maupun sistem kerja redaksi. Satu lagi, saya pasti akan merindukan mesin kopi di Balai Kota. [*]


Yolanda Agne, mahasiswa program studi jurnalistik di IAIN Ambon; Pemimpin Redaksi Lintas periode 2020-2021. Dapat dihubungi melalui surat elektronik: yolanda21agne@gmail.com.

Share this :

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*