Mahasiswa IAIN Ambon Protes Pemotongan Living Cost KKN

Suasana pembekalan KKN mahasiswa IAIN Ambon di gedung Aula Rektorat, Senin, 8 November 2021. Istimewa

Reporter: Yolanda Agne
Editor: Ihsan Reliubun


LINTAS.COM Mahasiswa kuliah kerja nyata (KKN) Institut Agama Islam Negeri Ambon memprotes pemotongan living cost (biaya hidup) menjadi Rp 157.500 per orang. Jumlah itu berbeda dengan janji Ketua Panitia KKN Hanafi Holle yang disampaikan ketika pembekalan di Aula Rektorat lantai III, Senin, 8 November 2021.

Pada hari pembekalan Hanafi menyebut biaya living cost per mahasiswa KKN sebesar Rp 180.000. “Saya tidak setuju dengan pemotongan karena kemarin ketua panitia jelas bilang Rp 180.000. Tapi sampai di lokasi ada pemotongan,” ujar Afika Windasari, peserta KKN di Dusun Telaga Pange, Negeri Rumahtiga, Kecamatan Teluk Ambon, Kota Ambon, Kamis, 10 November 2021.

Menurut Ketua Korps Sukarela Palang Merah Indonesia (KSR-PMI) unit IAIN Ambon itu, panitia pun tidak menjelaskan alasan pemotongan biaya hidup tersebut. Pemotongan pun terjadi pada mahasiswa KKN di Dusun Waimuli, Negeri Lima, Kecamatan Leihitu, Kabupaten Maluku Tengah.

Salah satu mahasiswa KKN, La Semi, ketika ditemui Lintas di Waimuli, berujar, pemangkasan biaya hidup itu baru diketahui ketika mereka akan bertolak dari kampus menuju lokasi pada Selasa, 9 November lalu. Saat itu dosen pembimbing lapangan (DPL) di kelompoknya menyodorkan amplop berisi uang tunai Rp 157.500.

Setelah menengok isi amplop, uang tunjangan hidup selama 40 hari itu dikembalikan ke DPL, Didin Burhanudin. Duit itu nantinya diserahkan ke warga yang menampung peserta KKN. “Di lokasi langsung kasih ke mama piara (tuan rumah),” kata Semi, mahasiswa sosiologi agama Fakultas Ushuluddin dan Dakwah, meniru ucapan Didin.

Ketua kelompok KKN Waimuli, Sirajuddin Rettob, sempat menanyakan uang di amplop senilai Rp 157.500 itu. Namun, Didin tidak memberikan keterangan rinci perihal pemotongan biaya hidup mahasiswa dalam program pengabdian masyarakat ini.

Kepada Sirajuddin, Didin hanya menyampaikan alasan pemotongan living cost lantaran dana dalam program pengabdian masyarakat tengah menurun. “Dia (Didin) bilang, ‘Katong punya anggaran (KKN) kurang’,” ujar Sirajuddin.

Didin membantah adanya pertanyaan dari mahasiswa ekonomi syariah Fakultas Syariah dan Ekonomi Islam tersebut. Ia mengaku tidak menyampaikan penjelasan terkait pemotongan biaya hidup lantaran dana KKN tahun ini tak memadai.

Selanjutnya, kata Didin, jumlah dana living cost yang ia terima dari panitia berjumlah Rp 157.500. Terkait pemotongan itu, pengajar di Fakultas Syariah ini meminta Lintas bertanya ke panitia. “Karena lembaran dan duit yang diberikan sesuai yang mereka tanda tangan, Rp 157.500,” ucap Didin ketika dihubungi Lintas, Kamis, 11 November.

Ketua Panitia KKN Hanafi Holle belum mengonfirmasi alasan pemotongan biaya hidup peserta KKN. Ditemui di Gedung Ekonomi Syariah, Hanafi, melalui mahasiswa, beralasan sibuk. “Antua (Hanafi) lagi kerja. Nanti setelah kerja antua ke Lintas,” ujar M. Anone Heluth, mahasiswa Fakultas Syariah.

Sebelumnya, Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LP2M), Saidin Ernas, mengatakan 335 mahasiswa yang mengikuti program pengabdian masyarakat diberikan biaya hidup sebesar Rp 600 ribu per orang.

“Nanti dihitung per orang Rp 600 ribu sekian. Semua kebutuhan ada di situ,” kata Saidin, Jumat, 22 Oktober lalu. Namun, dari sejumlah lokasi KKN di Seram Bagian Barat pun mendapat pemotongan serupa.

TAUFIK RUMADAUL | KARMAN RUMARUBUN | IHSAN RELIUBUN

Share this :
About admin 512 Articles
Lembaga Pers Mahasiswa (LPM), organisasi internal kampus atau Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), bergerak dalam bidang jurnalistik—mencari, mengolah, menulis, mengedit, dan mempublikasi sebuah artikel ke khalayak melalui pemberitaan online, koran, dan majalah. Lintas berdiri pada tanggal 24 April 2011.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*