Mahasiswa Sebut Panitia KKN Tidak Transparan Soal Pemotongan Living Cost

Kampanye antikorupsi di lingkungan IAIN Ambon, Rabu, 10 November 2021. LINTAS/Ihsan Reliubun

Reporter: Yolanda Agne
Editor: Ihsan Reliubun


LINTAS.COM – Mahasiswa kuliah kerja nyata (KKN) Institut Agama Islam Negeri Ambon menilai kampus tidak transparan dalam pemotongan living cost peserta KKN. Protes muncul setelah mahasiswa menerima biaya hidup selama 40 hari mengikuti program pengabdian masyarakat senilai Rp 157.500.

“Menurut beta tidak ada transparansi. Bicaranya lain tapi realitasnya tidak sesuai,” kata Muhammad Rifaldi, mahasiswa KKN di Dusun Karanjang, Negeri Rumahtiga, Kecamatan Teluk Ambon, Kota Ambon, Kamis, 10 November 2021.

Sebelumnya, Ketua Panitia KKN Hanafi Holle di Aula Rektorat lantai tiga pada Senin, 8 November lalu, menyampaikan biaya hidup per mahasiswa sebesar Rp 180 ribu. Uang tersebut akan diberikan kepada warga yang menampung peserta KKN selama 40 hari dalam program pengabdian kepada masyarakat.

“Saya tidak setuju dengan pemotongan karena kemarin ketua panitia jelas bilang Rp 180.000. Tapi sampai di lokasi ada pemotongan,” ujar Afika Windasari, peserta KKN di Dusun Telaga Pange, Negeri Rumahtiga, Kamis, 10 November.

Tak hanya peserta KKN di Pulau Ambon dan Kabupaten Maluku Tengah, keluhan pemotongan biaya hidup mahasiswa selama mengikuti program pengabdian masyarakat pun menimpa peserta KKN di Dusun Olas, Desa Lokki, Kecamatan Huamual, Kabupaten Seram Bagian Barat.

“Ketua panitia sampaikan, living cost peserta KKN di Olas Rp 180.000. Sementara peserta KKN di Olas hanya menerima sekitar Rp.157.500,” ucap M. Nurdin Kaisupy, mahasiswa jurnalistik Islam Fakultas Ushuluddin dan Dakwah, juga peserta KKN di Olas melalui pesan Massenger, Selasa, 8 November lalu.

Baca: Mahasiswa IAIN Ambon Protes Pemotongan Living Cost KKN

Dosen pembimbing lapangan atau DPL peserta KKN di Dusun Waimuli, Negeri Lima, Kecamatan Leihitu, Kabupaten Maluku Tengah, Didin Burhanudin, menyatakan menerima uang tersebut di amplop berjumlah Rp 157.500. Terkait adanya pemotongan seperti yang diprotes mahasiswa, Didin meminta tanyakan ke panitia.

“Karena lembaran dan duit diberikan sesuai yang mereka tanda tangan, Rp 157.500,” ucap Didin yang mendampingi 17 mahasiswa KKN, ketika dihubungi Lintas, Kamis pagi, 11 November.

Hanafi belum menanggapi alasan pemotongan living cost peserta KKN. Ditemui di Gedung Ekonomi Syariah, Hanafi, melalui mahasiswa, beralasan sibuk. “Antua (Hanafi) lagi kerja. Nanti setelah kerja antua ke Lintas,” ujar M. Anone Heluth, mahasiswa Fakultas Syariah dan Ekonomi Islam, itu.

TAUFIK RUMADAUL | IHSAN RELIUBUN

Share this :
About admin 512 Articles
Lembaga Pers Mahasiswa (LPM), organisasi internal kampus atau Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), bergerak dalam bidang jurnalistik—mencari, mengolah, menulis, mengedit, dan mempublikasi sebuah artikel ke khalayak melalui pemberitaan online, koran, dan majalah. Lintas berdiri pada tanggal 24 April 2011.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*