Di Bawah Bayang-bayang Masa Silam

Ilustrasi: Korban Kekerasan Seksual

Reporter: Lintas.com
Editor: Ihsan Reliubun


Pemuatan cerita kekerasan seksual ini berdasarkan izin dari korban. Cerita traumatis ini dikisahkan dan dimuat—dengan harapan—siswa-siswi bisa berhati-hatibaik dengan guru atau siapa pun di sekitar. Peringatan: artikel ini mengandung konten yang dapat memicu tekanan mental bagi pembaca. Disarankan tidak meneruskan membaca jika memicu trauma buat Anda.

***

LINTAS.COM — MALAM mulai turun. Waktu istirahat tiba. Saya masuk di sebuah tenda yang baru dibangun beberapa jam lalu. Di tenda segitiga ini saya berbaring. Di dekat saya ada Bahri dan Roi—keduanya bukan nama sebenarnya—dipanggil guru matematika, Arya. “Ayo, sini kita tidur di gudang saja. Di situ ada kasur empuk,” kata Arya—nama samaran. Tanpa pikir panjang saya dan dua sahabat itu menyusul guru. Usianya sekitar 30 tahun.

Ruang pengap yang biasa menyimpan peralatan olahraga itu menampung kami. Di atas matras senam lantai, kami merebahkan tubuh. Arya mengambil posisi di tengah. Kami belum menutup mata ketika Arya mengeluarkan laptop dan memutar film Sex is Zero. Saya sempat tertawa melihat beberapa adegan lucu. Saya mulai canggung saat gambar bernuansa mesum tampil.

Malam hampir larut. Suasana hening. Tawa kami di ruang rongsok ini menggelegar. Seorang guru di seberang menegur. Arya mematikan komputer jinjing. Ruangan ini seketika berubah seperti goa. Kami berbaring. Tapi belum tertidur pulas. Tiba-tiba tangan Arya merayap ke perut, turun ke celana. Ia berusaha menggapai alat vital. Menyadari itu saya memutar badan—dan seketika saya dalam posisi tengkurap. Saya mengencangkan sabuk celana.

Itu usaha saya yang mulai ketakutan—menghindar dari tangan Arya. Saya takut. Tapi tak punya keberanian melawan guru ini. Saya dirongrong rasa waswas. Arya sekilas, dalam bayangan saya, seperti gergasi. Bahri dan Roy sudah terlelap. Saya menyenggol tangan Bahri di samping—berharap dia mengetahui perilaku Arya—dan mengajak saya meninggalkan tempat ini.

Saya tak tahan. Lalu bangkit dan berjalan menuju tenda. Ada beberapa rekan lain tengah kongko. Saya langsung menyisipkan badan di antara mereka. Saya terperanjat saat Arya muncul di pintu tenda. Ia datang dan menjatuhkan tubuhnya di dekat saya. Saya tambah panik. Keesokan harinya Arya muncul lagi sebagai seorang guru, seakan ia tengah mengajar di kelas. Ia tak canggung. Sementara saya tetap sekolah dengan rasa takut setiap kali berpapasan dengan guru matematika, itu.

Kegiatan kemah di kecamatan pada Agustus 2011 tiba. Ingatan saya digeser ke peristiwa sebelumnya. Malam di hari kedua, saya tidur di tenda khusus laki-laki. Ritsleting celana terbuka. Saya terbangun ketika alat kelamin saya terasa dingin dan basah. Dalam diam saya bertanya-tanya. Pertanyaan ini terjawab setelah tahu Arya berbaring di samping kanan saya. Ia datang ketika saya nyenyak.

Saya hanya bocah cilik. Tak bisa berbuat banyak. Kecuali menutup mata lagi. Arya seakan menargetkan saya. Malam berikutnya saya memilih tidur di tenda siswi—dekat teman perempuan. Saya pikir ini tempat aman. Tapi saya keliru. Paginya, saya mendapati ritsleting terbuka dengan ujung kemaluan di luar. Rentetan kejadian itu meninggalkan trauma mendalam.

Juli 2012, kami merayakan kelulusan dengan berpesiar ke sebuah tempat wisata. Jaraknya sekitar 180 kilometer dari desa saya. Kami menginap di sana. Malamnya, Arya mendekati saya dengan menggeser Bahri yang berada dekat saya. Saya menghindar, menjauh, dan waspada setiap kali Arya tidur di dekat saya.

Berangsur-angsur saya tak kuat menahan beban ini, saya menceritakan kisah itu kepada Bahri, Roi, dan beberapa teman. Ada yang mengutuk perilaku Arya; ada yang justru menjadikan cerita itu untuk mengejek saya.

Saya lulus. Setelah itu, saya tak pernah tahu berapa siswa di sekolah itu bernasib seperti saya.

***

SAYA menginjakkan kaki pertama kali di Kota Ambon pada Agustus 2013. Di sini saya sebagai perantau sekaligus siswa di sebuah sekolah menengah atas. Saya mengenal banyak orang dari berbagai macam suku. Saya nyaman. Jauh dari pertanyaan usil teman-teman semasa SMP. Ingatan tentang Arya seketika tenggelam.

Namun, pada 2019, di kota ini. Seakan menyeret ingatan saya tentang Arya. Ketika itu saya bertemu Tamrin—nama samaran. Ia seorang manajer di salah satu toko buku. Ia sempat bercerita perihal bisnis buku. Ia dekati saya dengan alasan mau belajar menyunting video melalui aplikasi di ponsel pintar untuk keperluan promosi jualannya di media sosial.

Di suatu pagi, Tamrin mengirim pesan WhatsApp mengajak bertemu di kedai kopi, sore. Tujuan pertemuan itu untuk memulai latihan. Tapi pertemuan baru berlangsung malam hari di indekosnya lantaran sore itu ia mengaku ada banyak pekerjaan belum rampung.

Di kamar Tamrin terdapat pendingin udara, dapur pribadi, wastafel, mesin cuci, televisi, dan berbagai peralatan elektronik. Makanan dan cemilan melimpah.

Sambil menyeduh kopi, saya meminta dia mengunduh aplikasi KineMaster. Saya menjelaskan beberapa fungsi fitur untuk kebutuhan mengedit video. Tak lama Tamrin merasa cukup dengan penjelasan saya. Saya pamit pulang, tapi ia menahan. “Tidur saja di sini, besok pagi baru pulang,” katanya. Saya menolak karena merasa belum akrab dengan pria berkacamata ini.

Akhirnya saya menginap di kos Tamrin. Saya berbaring di kasur dengan mata sulit terlelap. Saat itu, Tamrin perlahan-lahan merapatkan badannya. Ia memeluk saya dari belakang. Saya panik. Saya berbalik memutar posisi tidur dan menindih tangan itu. Ia menarik lengannya dan berusaha memeluk saya lagi. Saya bangkit dan izin pulang.

Ia mencegah saya. Tapi saya berusaha meninggalkan kamarnya. Beberapa hari kemudian ia mengontak dan minta berjumpa di kos dengan modus serupa. Saya setuju, tapi tak pernah menemui Tamrin lagi.

Rentetan peristiwa yang pernah menimpa saya melahirkan perasaan marah, benci, trauma, dendam, bahkan malu kepada diri sendiri.

Suatu ketika saya membaca cerita kekerasan seksual di majalah Lintas. Kisah para korban itu seakan kembali mengubur keberanian saya berada di antara orang lain. Saya sadar mereka terluka, sama seperti yang saya alami belasan tahun silam.

Share this :
About admin 512 Articles
Lembaga Pers Mahasiswa (LPM), organisasi internal kampus atau Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), bergerak dalam bidang jurnalistik—mencari, mengolah, menulis, mengedit, dan mempublikasi sebuah artikel ke khalayak melalui pemberitaan online, koran, dan majalah. Lintas berdiri pada tanggal 24 April 2011.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*