Dinilai Perjuangkan Kebenaran, AJI Indonesia Kasih Penghargaan kepada Lintas

Anggota Lembaga Penerbitan Pers Lintas di Institut Agama Islam Negeri Ambon membentangkan poster pencabutan SK pembredelan Lintas saat mendaftarkan gugatan SK tersebut di Pengadilan Tata Usaha Negara atau PTUN Ambon, Maluku, pada Kamis, 7 Juli 2022. LINTAS/Ihsan Reliubun.

Reporter: Idris Boufakar
Editor: Yolanda Agne


LINTAS.COM — Lembaga Pers Mahasiswa Lintas di Institut Agama Islam Negeri Ambon mendapat penghargaan dari Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia sebagai pers mahasiswa yang memperjuangkan kebenaran dalam aktivitas jurnalistik. Pemberian penghargaan berlangsung dalam perayaan ulang tahun ke-28 AJI Indonesia.

“Dewan juri menilai, upaya LPM Lintas menyuarakan kebenaran dalam aktivitas jurnalistik layak diapresiasi,” kata Erick Tanjung, salah anggota dewan juri Penghargaan Pers Mahasiswa, yang juga Ketua Divisi Advokasi AJI Indonesia, melalui Zoom, pada Ahad malam, 7 Agustus 2022.

Penghargaan itu diberikan khusus kepada pers mahasiswa yang mengalami berbagai tekanan karena aktivitas jurnalistik. Tekanan dan intimidasi kepada awak Lintas berawal dari pemberitaan kasus kekerasan seksual diterbitkan dalam majalah Lintas edisi “IAIN Ambon Rawan Pelecehan” yang beredar pada Senin, 14 Maret lalu.

Hasil investigasi tim redaksi dalam majalah Lintas edisi kedua ini terkait dugaan 32 kasus kekerasan seksual di kampus tahun 2015-2021. Sebanyak 25 korban perempuan dan 7 laki-laki. Sementara terduga pelaku berjumlah 14 orang yang terdiri dari pegawai, dosen, mahasiswa, dan alumnus.

Liputan khusus itu berujung pada pembredelan Lintas, pemukulan dua awak redaksi, pengrusakan sekretariat, pelaporan ke Polda Maluku dengan tuduhan pencemaran nama, serta pemberhentian aktivitas pengurusan akhir studi anggota Lintas. Selain itu, pihak kampus menarik semua peralatan kerja Lintas di sekretariat.

Setelah dibekukan pada Kamis, 17 Maret lalu, Lintas menempuh jalur hukum dengan menggugat otoritas kampus ke Pengadilan Tata Usaha Negara  (PTUN) Ambon. “AJI Indonesia mengapresiasi pers mahasiswa yang gigih memperjuangkan kebenaran dan memperjuangkan keadilan bagi kebebasan pers,” ujar Erick.

Dalam penetapan penerima penghargaan, kata Erick, dewan juri berpendapat, apa yang dilakukan Lintas dalam aktivitas jurnalistiknya adalah perwujudan dari fungsi pers sebagai kontrol sosial. “Sementara perlawanan mereka (Lintas) atas pembredelan merupakan manifestasi dalam menjaga kebebasan pers,” ucap Erick. “Spirit ini selaras dengan nilai-nilai AJI.”

Penghargaan kepada Lintas sebagai apresiasi AJI Indonesia terhadap keberadaan pers mahasiswa. Peghargaan tersebut tidak menitiberatkan pada karya jurnalistik saja melainkan aktivitas jurnalistiknya. Bagi dia, pers mahasiswa adalah figur-figur penting dalam memelihara kemerdekaan berekspresi.

Pers mahasiswa memiliki peran penting dalam memperjuangkan dan mempertahankan kebebasan pers serta kebebasan berekspresi. Keberadaannya, menurut Erick, dapat memperkuat demokrasi yang bisa mendorong pemenuhan informasi bagi kepentingan publik.

Selanjutnya, dalam memutuskan penerima penghargaan dari 27 pers mahasiswa di Indonesia yang diajukan individu maupun kelompok, dewan juri merumuskan lima kriteria penilaian: mengukur produktivitas pers mahasiswa, melahirkan karya jurnalistik, aspek kode etik jurnalistik, isu yang diangkat dan tantangan yang dihadapi, serta keaktifan dalam isu kebebasan pers.

Pemimpin Redaksi Lintas Yolanda Agne, mengatakan penghargaan kepada Lintas merupakan dukungan dari komunitas jurnalistik dan masyarakat bahwa, suara pers mahasiswa masih diperlukan dalam menyampaikan fakta. Kebenaran sengaja disembunyikan dari apa yang harus diketahui publik dan masyarakat kampus.

“Lintas adalah tempat belajar kami. Kami tetap melawan ketidakadilan dan terus menyampaikan kebenaran yang sebenar-benarnya,” kata Yolanda. Menurut dia, saat ini sejumlah anggota Lintas menghadapi berbagai tekanan setelah menurunkan liputan khusus yang mengungkap kasus kekerasan seksual di IAIN Ambon.

Mahasiswa Jurusan Jurnalistik Islam Fakultas Ushuluddin dan Dakwah, IAIN Ambon, itu berharap ke depan pers mahasiswa di Indonesia bisa bekerja dengan aman, tanpa diintimidasi, atau mendapat tindakan represif. Kekerasan dan intimidasi pada Lintas, ia berujar, sebelumnya terjadi pada sejumlah pers mahasiswa di Indonesia.

Namun sampai hari ini pers mahasiswa masih terus berjuang dan berdiri tegak menyampaikan kebenaran, serta bekerja mematuhi kode etik jurnalistik. Menurut Yolanda, penghargaan yang Lintas terima merupakan penghargaan bagi pers mahasiswa di Indonesia. 

“Dari penghargaan ini, kami berharap semua pers mahasiswa di Indonesia tetap bersolidaritas,” kata Yolanda.

Penghargaan yang diberikan dalam acara perayaan hari lahir organisasi yang berdiri pada 7 Agustus 1994, yang mengangkat tema “Memperkuat Solidaritas di Tengah Represif Digital dan Oligarki”, memberikan penghargaan kepada aktivis, media, jurnalis, dan jurnalisme warga. Penghargaan itu berupa Udin Award, Tasrif Award, SK Trimurti Award, Penghargaan Jurnalisme Warga, dan Penghargaan Pers Mahasiswa.

Share this :
About admin 512 Articles
Lembaga Pers Mahasiswa (LPM), organisasi internal kampus atau Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), bergerak dalam bidang jurnalistik—mencari, mengolah, menulis, mengedit, dan mempublikasi sebuah artikel ke khalayak melalui pemberitaan online, koran, dan majalah. Lintas berdiri pada tanggal 24 April 2011.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*