Jasa Orang Terampas

Sumber: Warung Arsip

Penulis: Ihsan Reliubun


Karya atau buah tanganmu belum punah—dari ingatan atau penglihatan. Setelah banyak dirampas dan dihabisi.

Di sebuah ruang. Kadang sepi. Kadang ramai. Tepat pada dinding bercat biru. Bung diguratkan sebagai seorang lelaki paruh baya. Berkaos dalam hitam, bersarung kemeja putih. Bung duduk tersenyum, dengan sebatang rokok yang digerus api. Kau menjepitnya dengan dua jari.

Begitu juga kacamata yang Bung kenakan dan setumpuk senyum mengembang. Gigi putih itu masih rapat. Ada tahilalat di atas kening kiri. Dengan rambut mulai menipis. Entah, itu senyum mengejek atau senyum apa, tapi makna senyum itulah sesuatu yang Bung pendam, setelah bertahun-tahun dianggap pembangkang.

Bung, semalam saya baca sepotong surat. Surat yang Bung tulis untuk menanggapi surat sastrawan Goenawan Mohamad untuk Bung. Isi surat itu tidak biasa. Bung menerangkan banyak sekali pergolakan batin yang sudah ditimpakan penguasa Orde Baru—untuk Bung dan kawan-kawan yang lain. Bung menolak permintaan maaf Presiden Gusdur.

Isi surat itu, Bung seperti melempar sebuah pertanyaan: Gusdur meminta maaf atas nama Nahdatul Ulama atau Presiden Indonesia? Di sana ada percakapan tentang Nelson Mandela, atas konflik ras: kulit hitam versus kulit putih—di Afrika Selatan.

Goenawan berpendapat, dalam sejarah kesewenang-wenangan, semua korban akhirnya diciptakan setara, biarpun berbeda. Goenawan mengingikan, Bung harus bersikap seperti Mandela. Dan menyamakan penyekapan Bung, seperti Ivan Denisovich dalam sebuah gulag Stalin.

Tapi Bung “melerai”. Bung katakan Indonesia bukan Afrika Selatan. Dan yang menimpa Mandela berbeda dari korban ’65. Bagi saya ini romantika peradaban. Dan wajar saja, jika Bung menuntut demikian. Siapa berdiri atas nama siapa, berdasarkan apa.

Tapi Bung lain pula. Surat balasan dari Bung adalah pernyataan sikap atas apa yang dilimpahkan: korban ’65. Mereka yang dibunuh sebagai penganut komunis. Tapi tak sedikit yang disiksa dan dibantai hanya karena sebuah tuduhan: komunis!

Pulau Buru yang permai—adalah jasa Bung dan teman-teman seangkatan pembuangan. Hersri Setiawan dalam Memoar Pulau Buru mencatat, sebanyak 12 ribu orang dibuang. Tak sedikit pula yang jadi eksil di negara orang. Banyak pula yang tumpas.

Ngeri Bung!

Cerita tentang Pulau Buru dan masyarakatnya yang dulu masih hidup nomaden, dibuat agak “moderen”. Dan merupakan jasa Bung—dan mereka yang ikut di-Buru-kan.

Dan Bung mengatakan, setiap di antara mereka telah ikut mengubah savanah tandus ini jadi lahan pertanian yang hasilnya pernah dinikmati penduduk Maluku.

Orde Baru dan agenda pembersihan orang komunis lebih kejam dari tindakan Hitler—atas orang Yahudi di Jerman. Ini penilaian saya. Belum tentu benar; tidak tentu juga salah. Dan berbagai kekejaman itu sampai hari ini adalah latar cerita berbagai kebengisan.

Dari RTC Salemba—Nusakambangan—dan angkatan pertama, tahun 1969—Bung dibuang ke Pulau Buru, dengan nomor tahanan 641. Kedekut akan kebaikan—adalah ciri Orde Baru. Apa pun alasannya. Rasanya, yang baik saat itu, juga pahit.

Jika Bung mengatakan: masa kecilku adalah masa kekurangan pengetahuan. Mungkin itu benar. Tapi, di masa ini tak sedikit orang yang miskin pengetahuan. Masih ada buku yang di breidel. Para pengarang dilapor, dengan alasan menulis novel berbau pornografi.

Bukankah ini ciri di mana manusia kurang berpengetahuan? Hal ini terjadi di Aceh—awal Februari 2018. Dan mungkin ini juga yang berlaku puluhan tahun silam untuk karya Bung. Penyunting tulisan Bung, Joesoef Isak benar. Ia bilang: memang tidak mudah baginya menjadi pengarang di negerinya sendiri. Itu yang Bung alami.

Ini membuktikan, bahwa kemiskinan pengetahuan bukan saja berlaku di zaman baheula itu. Tapi, di zaman serba online pula. Dan itu yang suka dilakukan rezim Orde Baru. Enny Arrow, baik-baik saja rupanya. Padahal pengarang misterius itu lebih intim menulis novel berisi adegan ranjang.

Untuk itu, Bung. Saya masih menyaksikan guratan seorang teman—yang menggambarkan wajahmu. Seorang pengarang, calon peraih Nobel Sastra yang “dimaki-maki” di negaranya. Tapi dipuja di negeri asing.

Dan saya tahu, Bung bukan penganut PKI seperti yang disangkakan Orde Baru. PKI—adalah dalih atas pembungkaman hak bebas Bung dan separuh orang. Dengan itu, karya Bung dirampas. Dimusnahkan.

Ngeri Bung!

Tapi Tuhan begitu adil. Di usia 81 tahun, Bung berpulang. Artinya, dengan itu beban penderitaan itu usai sudah. Yang Bung titip, sumbangan Indonesia untuk dunia. Selain itu, Bung banyak memuji angkatan muda. Bung bilang perubahan itu hanya bisa dilakukan angkatan muda.

Tapi, ingat Bung! Tak sedikit angkatan muda yang pengecut. Tak sedikit dari mereka yang “memetik daun” dari saku ibu-bapaknya, untuk sekadar pesta omong-kosong. Inikah mental Orde Baru? Pemeras, pengemis, dan pembantai itu?

Untuk itu, Senin, 6 Februari 2018—adalah hari lahir Bung ke 93 tahun. Dan semua yang Bung tulis dan titip untuk dibaca, saya ucap terima kasih. Bung rebut “kebebasan” dengan berbagai perkelahian. Itulah ceritamu: Pramoedya Ananta Toer. ●


Catatan: tulisan ini sepenuhnya tanggung jawab penulis, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi lpmlintas.com. Ihsan Relibun editor Lintas, dapat dihubungi melaluiemailihsanreliubun@lpmlintas.com atau ireliubun@yahoo.com

Share this :
About admin 464 Articles
Lembaga Pers Mahasiswa (LPM), organisasi internal kampus atau Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), bergerak dalam bidang jurnalistik—mencari, mengolah, menulis, mengedit, dan mempublikasi sebuah artikel ke khalayak melalui pemberitaan online, koran, dan majalah. Lintas berdiri pada tanggal 24 April 2011.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*