Akui Langgar Kode Etik dalam Berita Pelarangan Cadar, Lintas Minta Maaf

Direktur Utama Lembaga Pers Mahasiwa Lintas, Salama Picalouhata, menjawab pertanyaan wartawan dalam aksi bungkam memprotes kekerasan terhada jurnalis di Ambon, Senin, 9 April 2018. FOTOLintas/Husni Tokomadoran

LPM LINTAS.COM, IAIN Ambon – Direktur Utama Lembaga Pers Mahasiswa Lintas Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Ambon, Salama Picalouhata, menyampaikan permohonan maaf atas pemberitaan “Cegah Radikalisme, Kampus Melarang Mahasiswi Bercadar” pada, Jumat, 6 April 2018.

Pemberitaan tersebut dianggap melanggar Kode Etik Jurnalistik yang diterbitkan Dewan Pers pada 2012 Pasal 7, tentang ketentuan menghargai embargo, informasi latar belakang, dan off the record sesuai dengan kesepakatan.  “Kami akui melanggar kode etik, karena penyampaian itu sifatnya off the record.Dan kami tetap memuatnya. Kami minta maaf kepada pihak yang namanya diberitakan. Tapi, sekali lagi, ini hanya dalam konteks pelanggaran kode etik,” kata Salama, Selasa, 10 April 2018.

Salama mengatakan, hasil evaluasi pemberitaan dan data wawancara Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Abdullah Latuapo,  tidak ditemukan ada pernyataan pelarangan bercadar dari pihak kampus secara resmi. Namun, kata Salama, larangan itu sifatnya masih diwacanakan. Pasalnya, Latuapo mengatakan ke depan ada semacam toleransi kepada yang bercadar. Tapi, itu belum dituangkan ke dalam aturan. Berdasarkan hasil bincang-bincang para rektor, kampus akan menghargai identitas mereka.

Ketika ditanyai apakah IAIN Ambon akan menerapkan peraturan pelarangan cadar, Latuapo menjawab  akan ada kebijakan yang mengarah ke situ. “Tapi, dia berujar, selama kuliah, mereka harus mengikuti aturan untuk membuka cadar saat  berada di kelas. Begitupun  dengan dosen. Nanti di luar saja baru kalian pakai,” ujar Salama mengutip hasil wawancara.

Menurut Latuapo, rencana mengatur tata busana di kampus tercantum dalam surat pernyataan Forum Pertemuan Pemimpin Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri (PTAIN) se-Indonesia, tentang Pengaturan Perilaku Berpakaian Mahasiswa di Lingkungan Kampus. Aturan lain dalam pernyataan itu, di antaranya menjunjung tinggi bangsa dan negara Indonesia, serta menjaga keutuhan negara Republik Indonesia;

Selain itu, menentukan kebijakan akademik, strategi maupun administratif tanpa diintervensi pihak lain; mengatur perilaku yang meliputi tindakan, dan tutur kata, demi terciptanya lingkungan akademik yang kondusif, bagi tercapainya tujuan proses pembelajaran yang efektif. Dan mengedepankan pemikiran etika, budaya, dan paham keagamaan yang inklusif, dan produktif bagi kemaslahatan bangsa Indonesia.

“Namun, surat pernyataan itu menurut Menteri Agama, masih bersifat sementara dan akan diperbaiki pada pertemuan selanjutnya di Solo pada April. Pasalnya, peraturan ini kurang tegas mengangkat masalah cadar,” kata Latuapo.

**

Berikut laporan yang diterbitkan Lintas:

Cegah Radikalisme, Kampus Melarang Mahasiswi Bercadar

LINTAS.COM, IAIN Ambon–Larangan mahasiswi bercadar di kampus Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Ambon, karena dikhawatirkan adanya penyamaran oleh lelaki sambil membawa alat peledak. Itu pun dianggap terlibat radikalisme.

“Kita (pihak kampus) antisipasi saja, bagaimana ketika pria menyamar sebagai wanita lalu Dia bawa bom, habis kita disini,” kata Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Kerja Sama Abdullah Latuapo kepada Lintas diruang kerjanya, Kamis, 5 April 2018.

Latuapo berpandangan bahwa IAIN Ambon adalah Kampus multikultural yang perlu dijaga dari gerakan-gerkan radikalisme. “Ose (kamu), pakai ninja, coba ose lihat mahasiswi lain tidak pakai itu. Berarti ose tidak menghargai multikultural,” ujarnya.

Menurutnya, mahasiswi bercadar harus sesuaikan diri dengan jenjang akademik, sebab nanti pihak birokrat akan mengeluarkan aturan bercadar saat berada di kampus. “Aturannya itu, saat proses kuliah lepas cadarnya dulu, pulang baru dipakai lagi,” tuturnya.

Menaggapi perkataan Latuapo, mahasiswi Jurusan Biologi, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, Rosa Fitriani, yang kerap mengenkan cadar ketika ke kampus mengatakan, pihak kampus jangan hanya memandang orang dari luarnya lalu menjastis sembarangan. Sebab, kata dia, mungkin orang lain memandang cadar itu simbol radikalisme dan melawan Pancasila.

“Namun saya bukan seperti itu. Saya bercadar karena mau menjaga pandangan saja. Pengen hijrah gitu,” ujar Fitriani kepada Lintas.

Sebelumnya, kebijakan pelarangan mahasiswi kenakan cadar di kampus berawal dari Universitas Sunan Kalijaga Yogyakarta pada Februari 2018. Pihak kampus secara tegas melarang penggunaan cadar bagi mahasiswinya. Kebijakan yang dituangkan dalam surat keputusan B-1031/Un.02/R/AK.00.3/02/2018 itu dimaksudkan untuk mengantisipasi masuknya paham radikalisme ke kampus tersebut.

Namun, sebelum dikeluarkan, kampus itu melakukan pembinaan atau konseling bagi mahasiswi di masing-masing fakultasnya, jika telah terjadi pembinaan namun tak ada mahasiswi yang mengikuti aturan kampus, maka pihak kampus itu mempersilahkan mahasiswinya untuk pindah kampus.

Share this :
About admin 490 Articles
Lembaga Pers Mahasiswa (LPM), organisasi internal kampus atau Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), bergerak dalam bidang jurnalistik—mencari, mengolah, menulis, mengedit, dan mempublikasi sebuah artikel ke khalayak melalui pemberitaan online, koran, dan majalah. Lintas berdiri pada tanggal 24 April 2011.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*