Perkara Cadar, Sentimen Teroris di IAIN Ambon

Anisa Buton, 18 tahun, perempuan bercadar yang berfoto di lingkungan Institut Agama Islam Negeri Ambon, Jalan Dr. H. Tarmidzi Taher, STAIN, Desa Batu Merah Atas, Kecamatan Sirimau, Ambon, Maluku, 14 April 2018/LINTAS/M.Irwan Tehuayo.

Reporter: M. Sofyan Hatapayo | Yustri Samallo | Aisya Mustara | A. Dais Tehuayo


Perkara cadar hingga sentimen teroris. Dia yang bercadar, habis manis sepah dibuang….

LINTAS.COM — Rosa Fitriana, 22 tahun, namanya tercantum sebagai anggota Paduan Suara Musik. Ia mengenakan cadar. Cuma, ia pula yang “tersingkir” dari grupnya yang seharusnya tampil di Konferensi Musik IAIN Ambon, 5 Februari 2018 lalu.

Belasan hari ia ikut berlatih dengan gigih, dengan usaha bisa tampil maksimal. Namun, kegigihannya tak terbayar lunas. Rosa mundur, dua hari sebelum Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin dan rombongan dari Jakarta, tiba di IAIN Ambon untuk membuka konferensi tersebut.

“Ini akan datang orang luar dan menteri. Kalau mereka melihat Rosa sendiri paduan suara bercadar, kan enggak enak juga,” kata Koordinator PSM Mulyadi Taslim Adihardja, seperti ditirukan Rosa, di ruang kuliah Jurusan Matematika, Rabu, 11 April 2018.

Mulyadi, 31 tahun, yang mengawal Rosa dan rekan-rekannya berlatih, mengaku tak sanggup menyampaikan pesan meminta Rosa mundur dengan alasan ia bercadar.

Mahasiswi semester delapan, Jurusan Biologi, Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan, itu tak menolak. “Kalau begitu saya tidak ikut sudah,” tutur Rosa, ketika Mulyadi menyampaikan pesan Koordinator Panitia Konferensi Musik IAIN Ambon Nurlaila Sopamena.

“Dit (Mulyadi), mohon maaf, kalau yang pakai cadar jangan diikutsertakan dulu,” tutur Nurlaila, ditirukan Mulyadi. Mulyadi menyatakan, pesan Nurlaila merupakan perintah Rektor IAIN Ambon Hasbollah Toisuta.

Kepada Lintas, Nurlaila enggan berkomentar. “Jangan dikonfirmasi ke saya. Konfirmasi saja ke Rektor,” ucap Nurlaila.

“Penyingkiran” Rosa, sempat tersiar di grup WhatsApp panitia. Pesan itu diduga dikirim secara pribadi dari Hasbollah ke Nurlaila. Lalu, di-screenshot kemudian dibagikan ke grup WhatsApp panitia.

Pityanto Manuputty, salah satu anggota panitia Konferensi Musik IAIN Ambon menyatakan sempat menanyakan kebijakan Hasbollah. “Kenapa Rektor mengambil kebijakan itu? Bukannya kampus kita ini kampus multikulturalisme,” kata Pityanto, seperti ditulis dalam grup tersebut.

Namun, seruan Pityanto tak membuahkan hasil. Multikulturalisme yang ditanyakan sutradara Baju Bola itu tidak digubris. Dalam rapat evaluasi, Hasbollah, katanya, juga blakblakan “menggeser” Rosa.

“Kalau mahasiswi bercadar ikut paduan suara, dikeluarkan,” kata Hasbollah, di Ruang Senat, Gedung Rektorat, Lantai 2, seperti ditirukan Pityanto. Rapat itu berlangsung sepekan sebelum acara pembukaan. Wakil rektor, dekan, kepala bidang, dan anggota panitia turut hadir saat itu.

Hasbollah menolak berkomentar atas Rosa, yang tidak dibolehkan tampil bersama grup PSM-nya. “Beta seng bisa bicara,” ujar Hasbollah sembari menunjuk bagian bawah bibirnya yang tertutup masker hijau, sambil berjalan menuju mobil, Senin, 16 April 2018.

Sebelumnya Hasbollah menolak bertemu Lintas. Penolakan wawancara bersama Lintas disampaikan melalui asistennya, Rasyid Kaisupy. “Sekarang yang diwanti-wanti menteri masuknya paham radikalisme di kampus-kampus. Bukan pelarangan cadar,” ujar Rasyid.

Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Kerja Sama Abdullah Latuapo, mengakui bertemu Rosa di Gedung Studi Seni Musik Islam, 3 Februari 2018. Dua hari sebelum acara pembukaan. Percakapan keduanya berlangsung seputar cadar yang dikenakan mahasiswi semester delapan itu.

“Kamu tidak usah pakai cadar, saya takut nanti dikira teroris,” kata Abdulah Latuapo, kepada Rosa, seperti ditirukan Mulyadi. Alumni Universitas Pattimura ini mengaku menyesali ucapan Abdullah Latuapo itu.

Abdullah Latuapo enggan menanggapi pernyataan yang disampaikan ke Rosa waktu itu. “Tidak perlu tanyakan yang lalu-lalu,” katanya. “Yang jelas tidak ada aturan resmi dari kampus terkait larangan bercadar.”

Abdullah Latuapo juga bertanya alasan Rosa bercadar dan sejak kapan pakai cadar. “Dia (Rosa) menjawab baru beberapa bulan. Saya tanya apa alasannya (bercadar). Jawabannya tidak jelas. Tidak sesuai hukum,” ujar Abdullah Latuapo.

Alasan mengenakan cadar oleh mahasiswi lulusan Pondok Pesantren Dr. Muhammad Natsir, Kecamatan Lembah Gumanti, Kabupaten Solo, Kota Padang, Sumatera Barat, juga dijelaskan ke Abdullah Latuapo.

“Bukan karena terpaksa,” katanya. “Saya niatnya baik dan ingin hijrah. Pengen lebih baik.”

***

Kabar “kibul” larangan bercadar di IAIN Ambon sempat jadi perbincangan panas di kalangan mahasiswa dan dosen.

Sentimen bercadar “tercium” di grup WhatsApp hingga rapat pimpinan. Dari arena belajar hingga “gelanggang” perpustakaan. Hal itu bukan saja dialami Rosa. Sejumlah mahasiswi mengaku menerima larangan bercadar dari dosen hingga pegawai perpustakaan.

Dekan Fakultas Syariah dan Ekonomi Islam Djumadi Djunaidi, mengatakan larangan bercadar sudah berlangsung di kampus dengan motto “Cerdas dan Berbudi” ini. Ia mengibaratkan mahasiswi bercadar, tak beda dengan istri para pria yang tergabung kelompok ISIS (Islamic State of Iraq and Syria).

“Siapa yang pakai cadar di sini? Soalnya cadar sudah tidak diperbolehkan lagi dipakai di sini. Cadar yang hanya kelihatan matanya saja itu identik dengan ISIS. Orang yang suka ngebom di mana-mana itu, istrinya semuanya pakai cadar,” ujar Djumadi, ditirukan Nurvita Haerani Haerudin, 18 tahun.

Terkait pernyataannya di kelas, Djumadi membantah ketika dikonfirmasi. “Tidak pernah, jangan mengada-ngada,” katanya. “Saya hanya membina tidak pula melarang. Bagi saya, yang penting enak dipandang serta nyaman untuk dia.”

Nurvita mengatakan, Djumadi tak seharusnya mengkritik mahasiswi bercadar. Melainkan yang tidak berhijab dan berpakaian seksi meniru budaya barat. “Masa menutup aurat malah dipermasalahkan,” ujar Nurvita, di Mahad Al-Jami’ah,10 April 2018.

***

Larangan bercadar juga dialami mahasiswi tak bercadar. Wa Firla Jumadi dan Yuyun Ariyani Umasugi, tiba-tiba ditegur pegawai perpustakaan supaya tidak memakai cadar, ketika mengembalikan buku pinjaman di perpustakaan, 4 April 2018 lalu.

“Jangan kamong pakai cadar, e! Nanti katong seng layani kamong. Soalnya rektorat sudah larang. Iyo, barang kamong pakai cadar, kamong masuk surga?” ujar Yuyun, 18 tahun, meniru ucapan Faidza Manilet, pegawai perpustakaan.

Faidza membantah pernah mengutarakan larangan bercadar, kepada dua mahasiswi Jurusan Jurnalistik semester dua itu. “Siapa yang bilang bagitu? Panggil dia kamari (ke sini) saya tampar dia,” katanya, 11 April 2018.

“Coba cari tahu di perpus, siapa yang larang?” ujar Hasbollah, kepada Lintas ketika mendapat informasi tersebut. Sementara itu Firla, 18 tahun, mengatakan mahasiswi yang mengenakan cadar tidak bisa dikaitkan dengan munculnya teroris di kampus.

“Ini kan kampus Islam. Kok dilarang pakai cadar. Kenapa dengan pakai cadar? Takut teroris? Yang dilarang kan seharusnya, yang tidak menutup aurat,” kata Firla. “Tidak profesional sekali.”

Selanjutnya, Hasbollah menolak berkomentar perihal sentimen teroris melalui cadar yang disampaikan bawahannya. Pada 13 dan 14 April 2018 lalu, Lintas meminta mewawancarainya, namun ia dikabarkan sakit.

“Bapak belum bisa keluar kamar. Nanti di kampus saja,” tutur Ariyani Toisuta, istri Hasbollah. Panggilan telepon melalui WhatsApp dan pesan yang dikirim Lintas pun tak digubris penulis buku Robohnya Baeleo Kami itu.

Editor: Ihsan Reliubun

 

Share this :
About admin 464 Articles
Lembaga Pers Mahasiswa (LPM), organisasi internal kampus atau Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), bergerak dalam bidang jurnalistik—mencari, mengolah, menulis, mengedit, dan mempublikasi sebuah artikel ke khalayak melalui pemberitaan online, koran, dan majalah. Lintas berdiri pada tanggal 24 April 2011.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*