Buah Bibir untuk Harith Rasyid

Sumber: Totobuanews

Penulis: Ihsan Reliubun


DELAPAN puluh tiga hari sudah kauhirup udara langit dan tanah. Jangan bimbang menjalani hidup dengan hiruk pikuk di tanah leluhurmu. Kauharus bangga, sekalipun tanah leluhurmu penuh orang-orang jago main sirkus.

Harith Rasyid—nama pemberian orang tuamu. Sirkus yang kumaksud berbeda dengan yang diperagakan Philip Astley—pria kebangsaan Inggris, London, tahun 1770. Adegannya dipertontonkan berisi jenaka, berbau lelucon. Oleh Philip orang-orang diajak terhibur.

Sekarang sirkus itu menjadi sebuah permainan yang tidak langka. Tapi dangkal. Entah, siapa yang bikin skenario ini? Nanti pula kautahu. Bahwa setiap skenario yang tertulis akan dibacakan oleh mereka yang mementasnya. Sudah muak bocah-bocah sebelummu menontonnya.

Jangan risau jika isinya tentang air mata, darah, serta bau amis permusuhan, Harith. Ini sudah menjadi tabiat. Dan kita masih terus bertanya, apakah ini yang diwariskan leluhur kita? Ataukah kita sendiri sebagai sang pemula. Semua tentang kekejaman.

Harith, setiap orang yang lahir tentu ingin merdeka. Dan proses merdeka ada air mata, darah, dan kehilangan. Kitab-kitab yang membicarakan larangan permusuhan seakan tak diindahkan. Apakah ini yang disebut Nietzsche: Tuhan sudah mati?

Tentang narasi Nietzsche, sebelum isi kepalamu mendongak, karena merunduk yang tumpah justru pilu, tidak perlu kautanya dan jangan beri tanda (?) di sana. Karena tempo ini, semua pertanyaan kehilangan jawaban.

Pada usiamu ke-68 hari, tepat pada Kamis, 8 Mei 2018—adalah permulaan peristiwa yang sungguh mengerikan. Insiden yang berlangsung selama dua hari (8-10 Mei) antara polisi dan sejumlah tahanan di rumah tahanan Mako Brimob Kelapa Dua, Depok, itu menewaskan lima prajurit polisi dan satu tahanan.

Dua hari setelahnya orang-orang mengenang Tragedi Trisakti. Tragedi ini menyebabkan empat mahasiswa Universitas Trisakti gugur ketika menuntut reformasi, pada 12 Mei 1998. Mei 2018—terhitung “20 Tahun Reformasi”. Ada kasus hak asasi manusia sampai hari ini belum rampung.

Niat baik pemuda-pemudi Angkatan ’98 yang ingin “merayakan” reformasi berhasil menaklukan rezim Orde Baru—yang memimpin negaramu selama 32 tahun. Menurut seorang kawan, dia adalah Hitler-nya Indonesia. Pada masanya, 12.000 orang diasingkan di tanah kelahiran kakekmu, Pulau Buru. Bukankah itu kejam, Harith?

Di usiamu ke-73 hari, tepat pada Ahad, 13 Mei—aksi teror melalui bom bunuh diri meruyak. Selain aksi teror yang menyerang Markas Polrestabes Surabaya, Jawa Timur. Teror bom itu lebih dulu mengahantam tiga tempat ibadah:

Gereja Santa Maria Tak Bercela, Ngagel, Gereja Kristen Indonesia di Jalan Diponegoro, dan Gereja Pantekosta Pusat Surabaya di Jalan Arjuno. Mereka memulainya karena akhir dari permulaan itu dibalas dengan surga. Tapi apakah kehendak itu akan bertaut satu sama lain?

Sementara mereka dengan garang menghidupkan kembali imajinasi Dante—penyair Italia, tentang inferno. Hingga meluluhlantakkan separuh bangunan gereja serta tubuh manusia. Api berkobar. Begitu juga darah dan air mata. Mungkin, Dante akan menangis melihat katastrofe ini.

Ada anak-anak dengan ajek melakasanakan titah ini…. Di akhir catatan ini, saya akan memberikan jawaban itu untukmu, siapa yang melibatkan bocah-bocah itu.

Duka dan air mata, tak membuat orang berhenti melawan ketakutan. Sepekan kemudian, Ahad, 20 Mei 2018—organisasi masyarakat dari Banser dan pendukung sepak bola Bonek bersama pihak keamanan ikut mengamankan 228 gereja di Surabaya. Ia melahirkan satu-kesatuan solidaritas.

Harith, pada umurmu ke-79 dan 80—tepat pada 19-20 Mei—cerita persekusi menimpa warga penganut Ahmadiyah di Nusa Tenggara Barat (NTB). Marah meluap. Seperti sebuah bendungan jebol, memuntahkan kerikil dan pasir. Itu terjadi ketika genderang ditabuh. Lalu, membacakan “jampi-jampi” siapa paling suci, oleh “mereka” yang merasa paling suci.

Akhirnya, penganut Ahmadiyah di Dusun Grepek Tanak Eat, Desa Greneng, Kecamatan Sakra Timur, Kabupaten Lombok Timur, NTB, terusir. Separuh rumah-rumah mereka rata tanah. Peristiwa yang sama sempat terjadi di lain tempat, 2011 silam. Di sini pun mengerikan.

Itulah hikayat manusia dari tahun ke tahun. Atas nama kekerasan, adakah yang saling sokong? Ini bukan pertanyaan untukmu, Nak. Tapi kelak, kaubisa mendapat jawabannya.

Begitu Harith. Bunuh-membunuh seperti tidak punya ujung cerita. Kekerasan dan saling memusuhi masih saja terngiang. Teror bom di Surabaya adalah sebuah peringatan: bahwa “surga” sesungguhnya adalah ketika kaumau berdamai dengan siapa saja. Bukan dengan bom. Bukan dengan perang.

“Kami masih berduka, tapi kami sudah memaafkan dengan tulus. Kami juga mendoakan para pelaku yang jadi korban,” tulis Tempo, mengutip Pastur Kepala Paroki Santa Maria Tak Bercela, A. Kurdo Irianto.

Sesudah ibu-bapakmu, belajarlah bersikap seperti seorang pastur di Surabaya itu. Ketika bunyi ledakan masih terngiang, ternganga, dan menewaskan sejumlah jemaat, merontokkan sebagian bangunan geraja, tapi tak mengalahkan budi luhurnya. Ia turut memaafkan pelaku teror.

Jika belasan tahun mendatang, Harith bertanya siapa yang menitahkan bom bunuh diri kepada bocah-bocah ini, maka, saya jawab langsung untukmu, ibu-bapaknya. Itulah jawaban yang tersimpan, sebelum kaujumpa jawaban yang keliru.

Karena tidak ada perintah dari “langit” untuk membunuh sesama manusia. Kitab-kitab agama Samawi sudah menuliskan itu (puluhan juta tahun) silam, Harith. Untuk itu, tidak perlu kaujadi pastur. Setidaknya, bersikaplah seperti dia….


Penulis, adalah Pemimpin Redaksi Lintas periode 2017-2018. Dapat dihubungi melalui email: ihsanreliubun@lpmlintas.com atau dihubungi di @IReliubun

Share this :
About admin 464 Articles
Lembaga Pers Mahasiswa (LPM), organisasi internal kampus atau Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), bergerak dalam bidang jurnalistik—mencari, mengolah, menulis, mengedit, dan mempublikasi sebuah artikel ke khalayak melalui pemberitaan online, koran, dan majalah. Lintas berdiri pada tanggal 24 April 2011.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*