Baloko

Ilustrasi: Nelayan

Penulis: Sapna Hatala


MEREKA bukan pencuri. Bukan pula anak-anak nelayan. Dari perahu nelayanlah mereka berburu ikan. Baloko, tradisi yang tumbuh dari bibir pantai Hila.

Baloko, diambil dari dialek setempat. Jika diartikan dalam bahasa Indonesia, mengambil. Jadi, jurus Baloko ini yang dimanfaatkan separuh anak-anak untuk “menangkap” ikan dari perahu nelayan yang bertandang di bibir pantai.

Jurus ini hanya ditemui di Negeri Hila, Kecamatan Leihitu, Kabupaten Maluku Tengah, Maluku. Desa ini terletak di timur Kota Ambon. Ilmuwan Georg Everhard Rumphius pernah tinggal di sini. Puluhan tahun ia membuat obat-obatan dari berbagai tumbuhan di Negeri Hila.

Baloko ikan bukan untuk dijual. Mereka mengambil secukupnya untuk disantap di rumah. Uniknya, Baloko juga dilakukan sebagian orang dewasa—yang saat itu ikut bertandang.

Anak-anak ini bergerombol turun ke pantai, ketika Jonson—sebutan untuk perahu bermesin muncul. Ukuran Jonson biasanya lebih besar dari perahu cadik. Para nelayan tak perlu memarahi anak-anak yang gesit “memancing” isi perahunya.

Jika mendengar deru mesin Jonshon, anak-anak ini saling memberitahu satu sama lain—berkunjung ke pantai. Tak semua nelayan asli orang Hila. Adapun para nelayan ini datang dari desa seberang. Mereka datang menjual hasil tangkapan.

Sejak bertahun-tahun silam praktik Baloko tumbuh. Namun, waktu merubah segalanya. Padahal perahu-perahu nelayan masih turut bertandang. Jurus Baloko kian hari terancam hilang. Cuma di Hila nelayan dan “bukan nelayan” sama-sama dapat untung.

Baloko atau mengambil secara diam-diam disebut “mencuri”? Mungkin. Di Hila tidak. Perut Jonson yang isinya “dirampas” tak diwajibkan hukum gantung bagi praktisi Baloko.

Anak-anak Baloko ikan di perahu nelayan. Kebanyakan dari keluarga tak mapan. Praktik Baloko tidak dikenakan sanksi. Karena Baloko dianggap bukan mencuri. Mereka sekadar “mengais untung” dari nelayan bernasib untung.

Jika benar, Baloko ini bukan kegiatan mencuri, maka hidupkan ia sampai jutaan tahun lagi. Jika ini “tradisi” yang ikut memperkaya miniatur budaya di Hila, mengapa pula dibunuh pemiliknya sendiri. Hanya karena separuh orang sudah mapan? Ada ratusan anak dan orang tua yang hidup bakal tak mapan—di masa mendatang! Pilih mana? [*]


Penulis adalah salah satu peserta di kegiatan “Menulis Esai”, yang diselenggarakan di Negeri Hila, Kecamatan Leihitu, Kabupaten Maluku Tengah, Maluku.

Share this :
About admin 484 Articles
Lembaga Pers Mahasiswa (LPM), organisasi internal kampus atau Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), bergerak dalam bidang jurnalistik—mencari, mengolah, menulis, mengedit, dan mempublikasi sebuah artikel ke khalayak melalui pemberitaan online, koran, dan majalah. Lintas berdiri pada tanggal 24 April 2011.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*