Seruan dari Punggawa Leka-leka Wae

Ilustrasi: Anak-anak di pelataran masjid

Penulis: Jahra Ely


Leka-leka wae antuni magarib aholo tum puka e….

Setiap sore panggalan sajak itu bergema di masjid. Tepatnya menjelang berbuka puasa di bulan Ramadan. Pelantunnya anak-anak. Seruannya berhenti setelah sang imam menabuh beduk masjid.

Fragmen di atas, jika diartikan ke dalam bahasa Indonesia, berbunyi: “Cepat-cepat sudah pukul beduk masjid tanda magrib, kita berbuka puasa….”

Seruan “Leka-leka Wae” hanya dimiliki masyarakat di Negeri Hila. Salah satu negeri yang terletak di wilayah timur Kota Ambon, Maluku. Hila, kampung yang sempat didiami ilmuwan Georg Everhard Rumphius.

Tokoh adat di Hila belum dapat menyimpulkan, tahun berapa seruan berbuka puasa itu muncul. Salah satu tradisi yang ditinggalkan para leluhur di Negeri Hila sejak zaman baheula. Jangan biarkan ia rebah rempah.

Abdul Rasyid, 56 tahun, mengatakan semua orang Hila tahu lagu “Leka-leka Wae”. Menurut tokoh adat Negeri Hila, Kabupaten Maluku Tengah ini, siapa tidak menghafal lagu itu, berarti masa kecilnya tidak tinggal di Hila.

***

Uniknya, para punggawa “Leka-leka Wae” bukan dari anak-anak yang dipilih khusus. Tidak pula dari mereka pemilik suara merdu. Mereka datang ke masjid tanpa dipanggil. Tidak diharuskan bergamis. Kaus oblong pun jadi, asalkan bersih, rapi.

Masjid Hasan Soleman jadi titik kumpul. Para punggawa berkumpul sejak pukul 18.00 waktu Indonesia timur. Depan masjid yang terletak di tengah-tengah Negeri Hila ini, para bocah serempak menyerukan “Leka-leka Wae” berkali-kali.

Setelah “Leka-leka Wae” sampai bunyi beduk. Para punggawa lantas menanggalkan pelataran masjid. Disertai wajah gembira mereka berlari menuju rumah. Tak peduli ada yang terjatuh. Mereka memburu menu batal sambil berteriak, “Sudah puka….”

Sekalipun terjatuh, semangat mereka tak bergeming. Hingga mengulangnya besok lagi. Tradisi “Leka-leka Wae”, untuk anak-anak di Hila sudah menjadi donci favorit di bulan Ramadan.

Tradisi ini sudah mandarah daging di masyarakat Hila. Untuk itu, mereka tetap merawat tradisi—titipan leluhurnya. Mereka percaya menjaga tradisi adalah dengan jalan melestarikannya.

Menurut Rasyid, meski lagu dan cara pertunjukannya terlihat sederhana, tetapi tradisi itu tentu memiliki nilai tersendiri. Nilai itu yang dipikirkan para pendahulu jauh sebelumnya. Ia berharap generasi berikutnya harus melestarikan tradisi turun-temurun ini.

“Budaya adalah jati diri. Hilang budaya berarti hilang jati diri,” kata Rasyid. “Sebab ‘Leka-leka Wae’ adalah tradisi yang hanya dimiliki oleh masyarakat Negeri Hila.” [*]


Penulis adalah salah satu peserta di kegiatan “Menulis Esai”, yang diselenggarakan di Negeri Hila, Kecamatan Leihitu, Kabupaten Maluku Tengah, Maluku.

Share this :
About admin 512 Articles
Lembaga Pers Mahasiswa (LPM), organisasi internal kampus atau Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), bergerak dalam bidang jurnalistik—mencari, mengolah, menulis, mengedit, dan mempublikasi sebuah artikel ke khalayak melalui pemberitaan online, koran, dan majalah. Lintas berdiri pada tanggal 24 April 2011.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*