Surat Ijin Menggonggong

Ilustrasi

Penulis: Elipsis

“ORANG menjadi besar karena pikirannya besar, tindakannya besar, dan tak lupa pula berjiwa besar. Sebaliknya orang yang kecil,” itu kata Pramoedya Ananta Toer dalam Rumah Kaca—satu dari Tetralogi Pulau Buru.


Memang tidak adil karena tulisan kecil, Minke mendapat hukuman besar. Sebenarnya Beta berhak menggunakan kata yang seburuk-buruknya.

Sayang juga pada kertas-kertas yang ia habiskan saat itu, bila dipergunakan kata-kata yang berderet otak saat ini. Hukuman besar terhadap kesalahan kecil. Dan tak ada seorang pun tersinggung perasaan keadilannya. Karena “mungkin” berjiwa besar, dan aksinya tak diragukan lagi: sekadar binatang jalang.

Kadang-kadang alur hidup yang tadinya dalam, satu demi satu keruh dari depan, inilah…—wanita-wanita pesanan, besar dan berotot; lunglai dan compang-camping. Sama saja, mereka yang tak hilang dalam ketidakadilan, belum pun niatnya belajar keadilan. Hitamnya tempat ini.

Mendapatkan payung untuk kepala itu penting! Jika bertemu, percayalah, banyak mencerminkan…, meletup dalam bentrokan atau pun penyesuaian. Cerita ini, aku tak ragu dan segan mengakuinya. Dalam penilaian, ini sebetulnya tak perlu lagi dicari jawaban. Sebagai cerita yang bersegi ganda.

Kiranya proses itu terjadi terutama dalam nilai-nilai yang bergeser—pengaruh lingkungan atas penjilat sebagai bayangannya—guru juga, penilaianku sebagai perusak, kadang-kadang. Jembatan itu sendiri sebagai timbangannya. Nampaknya itu satu ilmu tersendiri. “Dua” tahun lagi, akan diuji tangkapan cermin terhadap cahaya. Warna apa yang akan muncul? Kuning, merah, hitam, makanlah sekencang-kencangnya. Tapi tak boleh terburu-buru menentukan.

Ilustrasi

Jika ditangkap dan diuji, AKU, sudah ahli di bidang psikologi, sisanya kebudayaan. Sedikit pembelaan setidaknya, mencoba membasahi kanfas saat masa tayang bioskop 99, itu berlaku. Bagaimana pun AKU pernah dipimpin mendikte sebuah tulisan di sekolah dasar. Namun, dan bahwa untuk seterusnya, AKU takan terpisahkan dari suka-dukanya; sukses dan gagalnya.

Sewaktu mengeja A dan K,  AKU gagal di U. Dan kutahu betul, itu akan terjadi. Gema sorak-sorai untukku, lebih mendesak, menerkam daripada mengharapkan pendapat-pendapat perseorangan. Selebihnya takkan merubah keadaan.

Melarang adalah makanan kesukaan malaikat; mengecoh bukan ahlinya iblis, tapi striker dalam permainan catur—yang membayar dan mendapat kenikmatan tersendiri. Rasa-rasanya diri menjadi lebih penting dan terkutuk. Dapat ku mengerti daripada hanya membantah.

Bersabarlah. Begitu menghirup oksigen selama, seirama, akan segera kecanduan melarang dan menindas. Dari bawah ke atas, laju tempo seperti tirta mengalir—melaksanakan. Penjilat. Ha-ha-ha. Saatnya melatih jantung, meggemukkan urat-urat saraf. Sedangkan dari atas ke bawah, seterusnya-seterusnya beribu kebohongan dan pelarangan.

Berjiwa besar, sekali lagi akan membawa pribadi besar, lengkap dengan surat ijin menggonggong (SIM). Sebelum hidup layak diambil, pagina-pagina alur maju-mundur, ini dapat AKU cicipi. Barangkali diumur 99 ini, lembaran Rumah Kaca, ini dapat di selesaikan. Sekecil itulah keahlianku, sekali lagi dibidang psikologi dan kebudayaan.

Catatan: Tulisan ini sepenuhnya tanggung jawab penulis, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi lpmlintas.com


Penulis adalah mahasiswa IAIN Ambon.

Share this :
About admin 484 Articles
Lembaga Pers Mahasiswa (LPM), organisasi internal kampus atau Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), bergerak dalam bidang jurnalistik—mencari, mengolah, menulis, mengedit, dan mempublikasi sebuah artikel ke khalayak melalui pemberitaan online, koran, dan majalah. Lintas berdiri pada tanggal 24 April 2011.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*