Menggugat Posisi Pejabat Nakal

Ilustrasi: Foto/Muh Pebrianto

REKTOR Institut Agama Islam Negeri Ambon Zainal Abidin Rahawarin seharusnya tidak memberi jabatan penting kepada dosen yang diduga pernah melakukan pelecehan seksual terhadap mahasiswa. Kejahatan itu berpotensi akan berulang lantaran terduga pelaku masih mendapat posisi penting. Dengan jabatan strategis itu, tak ada jaminan dia tidak mengulang kejahatan cabul.

Selang beberapa bulan, sejak Lintas merilis kasus pelecehan seksual empat tahun lalu, dalam sebuah ruangan sebagian mahasiswa kembali bercerita perihal kekerasan seksual menimpa mereka. Pelakunya adalah dosen. Namun, wacana ini di IAIN Ambon terkesan tabuh karena kampus tidak melakukan penelusuran lebih lanjut sesudah kasus pertama terkuak. Mereka terkesan melindungi pelaku dengan menuduh korban menikmati hasrat bejat dosen tersebut.

Pasca-pemberitaan pelecehan seksual terbit pada 2017 silam,  muncul respons dari berbagai kalangan: dosen, mahasiswa, hingga masyarakat. Mahasiswa melancarkan protes berupa unjuk rasa berhari-hari lantaran kampus yang saat itu masih dipimpin Hasbollah Toisuta tidak mengedepankan penyelidikan kasus tersebut. Justru menuduh Lintas membuat berita fitnah.

Selain itu, muncul kesan buruk dari sejumlah pejabat teras kepada pedemo yang meminta kasus tersebut diusut tuntas. Kesan buruk itu berupa pelarangan unjuk rasa dengan dalih mencoreng nama kampus. Rektor dan separuh bawahannya enggan melihat kekerasan seksual sebagai kejahatan kemanusiaan yang mesti disapu bersih dan menghukum pelaku. Mengabaikan kekerasan seksual sama dengan memberi ruang kepada para predator kembali memangsa banyak korban.

Kekerasan seksual marak terjadi di perguruan tinggi. Kebanyakan pelakunya adalah dosen. Jenis pelecehannya pun bermacam-macam. Baik secara verbal maupun nonverbal. Terjadi dengan berbagai modus, seperti berpura-pura mengajak korban makan bersama hingga melalui pengurusan studi yang berlangsung di luar aktivitas perkuliahan.

Menurut tirto.id, lewat formulir testimoni pada 13 Februari-28 Maret 2019, tercatat 174 kasus pelecehan seksual berhubungan dengan institusi perguruan tinggi. Kekerasan itu terjadi di kampus atau dilakukan sivitas akademika. Serta di luar kampus, misalnya dalam acara-acara resmi seperti kuliah kerja nyata (KKN), magang, atau acara kemahasiswaan.

Kembali ke kampus yang tengah bergegas menjadi universitas ini, Rektor Zainal serupa Hasbollah, terlihat tidak berpihak kepada hak mahasiswa yang mesti dilindungi dari kejahatan apa pun. Hal ini tampak nyata ketika salah satu terduga pelaku pelecehan seksual diberi jabatan penting. Padahal, sebelumnya sejumlah mahasiswa sudah terang-terangan mengisahkan diri mereka sebagai korban—yang di dalamnya menyasar teman pria.

Supaya tidak kecolongan, Rektor Zainal sebaiknya memperketat pengawasan agar dosen berperilaku cabul bisa diawasi. Mereka yang melancarkan aksi bejat bisa dihukum setimpal. Selain itu, kampus perlu mendirikan lembaga khusus yang bertugas mengadvokasi kejahatan seksual. Sekaligus melindungi dan menjamin rasa aman para penyintas. Bukan malah menyodorkan jabatan penting di pundak terduga pelaku.

Ini alarm penting buat Rektor Zainal. Ia semestinya memverifikasi latar belakang setiap tenaga pengajar sebelum mereka diberi kuasa mengepalai sebuah bidang kerja di fakultas. Sebab, hal itu berpotensi menyuburkan kejahatan seksual. Menciptakan rasa aman kepada mahasiswa mesti menjadi perhatian semua elemen di lembaga ini.

Syahdan, kami berharap Rektor Zainal bisa “menyapu bersih” para dosen dan pejabat yang mencoba-coba melancarkan kejahatan seksual di kampus. Melindungi mahasiswa dari kejahatan seksual jauh lebih penting ketimbang membangun infrastruktur, tapi budaya cabul masih tumbuh subur di kampus kami.

Share this :
About admin 490 Articles
Lembaga Pers Mahasiswa (LPM), organisasi internal kampus atau Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), bergerak dalam bidang jurnalistik—mencari, mengolah, menulis, mengedit, dan mempublikasi sebuah artikel ke khalayak melalui pemberitaan online, koran, dan majalah. Lintas berdiri pada tanggal 24 April 2011.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*