Kekerasan di Balik Dalih Harga Diri

Ilustrasi: Foto/ Muh Pebrianto

INSTITUT Agama Islam Negeri Ambon masih memelihara pandangan buruk yang menganggap mahasiswi hanya dibolehkan beraktivitas pada waktu tertentu. Perempuan beraktivitas di malam hari dituduh tidak memiliki harga diri. Dengan begitu kampus bukan lagi perguruan tinggi melainkan penjara buat perempuan.

Wacana perempuan tak memiliki harga diri itu keluar dari mulut Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan dan Kerja Sama Fakultas Ushuluddin dan Dakwah, Sarifudin. Pernyataan “perempuan yang beraktivitas malam hari sama dengan menjual harga diri” disampaikan kepada mahasiswa yang tengah menggelar pameran desain komunikasi visual di area parkir Laboratorium Komunikasi Massa, 1 Maret lalu.

Kekerasan verbal yang dilontarkan doktor di Fakultas Ushuluddin ini tidak bisa dibenarkan. Jelas, pernyataan itu menghina akal sehat. Padahal tidak ada hukum yang melegalkan atau memberi batasan bagi laki-laki atau perempuan beraktivitas pada jam tertentu. Dengan dalih apa pun, narasi itu disampaikan dengan tujuan mengucilkan kodrat perempuan.

Pernyataan itu merupakan kekerasan verbal. Sarifudin menyampaikan itu ketika menemui mahasiswa di arena pameran dengan tujuan menutup aktivitas tersebut karena suara musik di pusat kegiatan mengusik Rektor Zainal Abidin Rahawarin tidur. Perintah itu datang dari Dekan Ushuluddin Ye Husein Assegaf, yang barusan dihubungi Rektor.

Alih-alih meminta mahasiswa menutup acara selingan, Sarifudin malah mencecar mahasiswa dengan pernyataan rendahan. Ketika ditanggapi, ia kembali menyerang mahasiswinya dengan menyampaikan akan mempersulitnya di akhir studi. Bukan saja antikritik melainkan pandangan Sarifudin ke mahasiswa terkesan latah dan patriarkis.

Gawatnya, pernyataan kekerasan itu dibenarkan Husein. Ia mengatakan, pukul sepuluh malam perempuan sebaiknya berada di rumah. Sekaligus melontarkan pertanyaan maksud mahasiswi masih beraktivitas sekitar jam 11 malam itu. Di sini, Dekan Ushuluddin justru “memperkaya” pernyataan Sarifudin untuk sama-sama melancarkan kekerasan ke mahasiswi.

Zaman kian terang. Konservatisme masih menjadi problem dengan mengabaikan kesetaraan gender. Budaya konservatisme itu melegetimasi rendahnya pengetahuan dosen memahami kesetaraan laki-laki dan perempuan. Lebih buruk jika hal itu kian menjamur di perguruan tinggi. Tak heran jika kesan yang muncul, IAIN Ambon sebagai lembaga pendidikan belum serius menjamin rasa aman kepada perempuan.

Kekerasan verbal merupakan kasus serius, karena itu harus menjadi perhatian kampus. Tak hanya menimbulkan onar, pernyataan serupa mengancam psikis korban. Seorang pengajar di Fakultas Syariah dan Ekonomi Islam sempat didemo lantaran mengumbar kata-kata kotor ke mahasiswa. Pernyataan merendahkan, mengancam, dan melecehkan perempuan sudah sepatutnya disapu bersih.

Rektor seharusnya tidak berpangku tangan membiarkan bawahannya mengumbar ucapan yang merendahkan kaum hawa di ruang publik. Tak cukup dengan nasehat, dosen bertabiat buruk harus mendapat sanksi akademik. Jika tidak, mahasiswa, dosen, bahkan pejabat di kampus berpeluang menjadi korban kekerasan itu sendiri.

Share this :
About admin 464 Articles
Lembaga Pers Mahasiswa (LPM), organisasi internal kampus atau Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), bergerak dalam bidang jurnalistik—mencari, mengolah, menulis, mengedit, dan mempublikasi sebuah artikel ke khalayak melalui pemberitaan online, koran, dan majalah. Lintas berdiri pada tanggal 24 April 2011.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*