AMP Maluku Sebut Proyek LIN Rampas Ruang Hidup Nelayan Kecil

Anggota AMP Maluku, Muhammad Yusuf Sangadji, membacakan tuntutan dan penolakan program Lumbung Ikan Nasional (LIN) di kawasan laut Pulau Pombo, Negeri Waai, Kecamatan Salahutu, Kabupaten Maluku Tengah, Maluku, Ahad, 16 Agustus 2021. LINTAS/Indah Sari Ibrahim

Reporter: Indah Sari Ibrahim
Editor: Ihsan Reliubun


LINTAS.COM – Aliansi Masyarakat Pesisir (AMP) Maluku memprotes masuknya program Lumbung Ikan Nasional (LIN) yang direncanakan beroperasi pada 2023 mendatang di Maluku. AMP menilai megaproyek LIN berdampak pada perampasan ruang hidup masyarakat pesisir dan nelayan kecil.

“Pemerintah provinsi jangan merampas ruang hidup anak-anak Maluku. Jangan merampas hak-hak nelayan kecil,” kata anggota AMPM, Muhammad Yusuf Sangadji, di Pulau Pombo, Negeri Waai, Kecamatan Salahutu, Kabupaten Maluku Tengah, Maluku, Ahad, 16 Agustus 2021.

Yusuf melancarkan protes penolakan program LIN di Maluku dengan berenang sepanjang tiga kilometer sembari membawa bendera Merah Putih. Ia bertolak dari pesisir pantai Batu Dua hingga Pulau Pombo—salah satu kawasan konservasi laut di Maluku Tengah.

Yusuf mengatakan, Pulau Pombo salah satu kawasan yang terancam rusak akibat pembangunan pusat industri yang terintegrasi dengan pelabuhan atau Ambon New Port. Direncanakan pembangunan kawasan Ambon New Port seluas 200 hektare (Kompas.id, 29 Maret 2021).

“Pulau Pombo merupakan salah satu tempat nelayan-nelayan menghidupkan keluarga, menghidupkan anak. Di sini tempat mereka mengakses kehidupan,” tutur Yusuf, di pulau seluas empat kilometer persegi itu, seusai renang.

Selanjutnya, protes lain datang dari nelayan asal Batu Dua, Ode Salihi. Salihi mengkhawatirkan adanya proyek babon itu justru mengancam tempat nelayan mencari nafkah. “Katong mau cari ikan di mana? Lebih baik seng ada pembangunan (LIN),” kata Salihi.

Senada dengan Salihi, Saimin mengatakan LIN akan menyengsarakan para nelayan yang bergantung nasib di laut. Ia mempertanyakan jaminan hidup masyarakat pesisir dan nelayan jika program LIN berhasil digarap. “Kalau pembangunan LIN itu jadi, adakah jaminan (hidup) untuk katong?” tutur Saimin.

Seusai aksi renang hingga tiba di Pulau Pombo Yusuf langsung membacakan lima poin penolakan proyek LIN, yang berbunyi: merusak sumber daya laut dan sumber pangan orang Maluku; mematikan ekosistem di Pulau Pombo. Proyek LIN hanya menguntungkan investor atau nelayan besar; mematikan nelayan kecil Maluku dengan alat tangkap terbatas; serta menciptakan buruh murah dan praktik perbudakan.

Dengan alasan tersebut, AMP Maluku dalam membacakan tiga tuntutan, yakni: menolak proyek Lumbung Ikan Nasional dibangun di Maluku; menghentikan rencana pembangunan Ambon New Port sebagai salah satu pusat kegiatan ekonomi LIN di Waai, Pulau Ambon, mendesak pemerintah daerah dan pemerintah pusat secara terbuka melibatkan masyarakat Maluku dalam proyek ekonomi perikanan.

Dalam aksi AMP Maluku yang berlangsung kemarin—jam 09.45 WIT di Batu Dua, itu diawasi sejumlah anggota TNI-Polri. Wartawan, nelayan, dan sejumlah massa bertolak menuju titik aksi di Pulau Pombo mengendarai ketinting.

Tercatat 15 organisasi mendukung penolakan proyek LIN, yakni Kora Maluku, Forum Penyelam Mahasiswa Indonesia (FoPMI), Karang Nusantara, Sekolah Bahari, Beta Alifuru Maluku Melanesia (BAMM), Gerakan Rakyat Maluku Melawan (Geramm), Pengurus Besar Ikatan Pelajar Mahasiswa Sepa.

Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Hukum (BEM FH) Universitas Pattimura. Yayasan Lembaga Bantuan Hukum (YLBH) Insan Cita, Mahasiwa Hukum Pencinta Alam Unpatti, Lembaga Konsultasi Bantuan Hukum Mahasiswa Islam (LKBHMI) Cabang Ambon, HMI Komisariat Hukum Unpatti, HMI Komisariat Ekonomi Unpatti, Badan Koordinasi (Badko) HMI Maluku-Maluku Utara, HMI Komisariat Perikanan dan Ilmu Kelautan Unpatti.

Share this :
About admin 490 Articles
Lembaga Pers Mahasiswa (LPM), organisasi internal kampus atau Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), bergerak dalam bidang jurnalistik—mencari, mengolah, menulis, mengedit, dan mempublikasi sebuah artikel ke khalayak melalui pemberitaan online, koran, dan majalah. Lintas berdiri pada tanggal 24 April 2011.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*