Sebut Tidak Dibredel, Alat Kerja Lintas Ditarik

Calon anggota pers mahasiswa Lintas tonton film Spotlight saat mengikuti pelatihan jurnalistik dasar periode 2020-2021. LINTAS/Arif Rahmuni

Reporter: Lintas.com
Editor: Yolanda Agne


LINTAS.COM – Institut Agama Islam Negeri Ambon melalui kuasa hukumnya, Gajali Rahman, berdalih kampus tidak membekukan pers mahasiswa Lintas. Berbeda dengan Surat Keputusan Nomor 95 tentang Pembekuan LPM Lintas yang ditandatangani Rektor Zainal Abidin Rahawarin pada Kamis, 17 Maret 2022.

“Yang benar itu kepengurusan UKM LPM Lintas dibekukan karena periodesasi kepengurusan satu tahun telah berakhir, terhitung sejak 16 Maret 2022,” kata Gajali seperti dikutip Saburomedia.com, Sabtu, 19 Maret 2022.

Setelah SK pembekuan diterima disusul penarikan sejumlah alat kerja Lintas di sekretariat. “Seharusnya pihak kampus memberikan kesempatan kepada pengurus musyawarah, bukan dibredel,” kata Redaktur Pelaksana Majalah Taufik Rumadaul, Sabtu, 19 Maret 2022.

Pemimpin Redaksi Lintas Yolanda Agne, mengatakan SK itu secara langsung menutup Lintas. Kampus beralasan pers mahasiswa berjalan tidak sesuai visi misi IAIN Ambon. “Itu tidak benar. Seharusnya kampus berterima kasih atas berita yang diterbitkan Lintas. Supaya menjadi bahan evaluasi kampus,” ujar Yolanda.

Sebelumnya, pemberitaan Lintas dalam majalah edisi “IAIN Ambon Rawan Pelecehan” menuai kontroversi. Pihak kampus menganggap pemberitaan pelecehan seksual itu mencoreng nama kampus. Pada Rabu, 16 Maret lalu, tiga pengurus diminta bertemu di ruang Senat IAIN Ambon.

Tiga pengurus Lintas tersebut, yakni penjabat Direktur Utama LPM Lintas Sofyan Hatapayo, Yolanda Agne, dan Taufik Rumadaul. Dalam pertemuan ini, Yolanda Agne diminta menunjukkan bukti berupa nama korban dan terduga pelaku kekerasan seksual.

Permintaan Dekan Fakultas Ushuluddin dan Dakwah Yamin Rumra, itu ditolak. Yolanda beralasan tidak memberikan data tersebut demi menjaga keamanan korban dan menjalankan Kode Etik Jurnalistik Pasal 5: tidak menyebutkan identitas korban kejahatan susila.

Lintas menyarankan membentuk tim penanganan sesuai Surat Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama Nomor 5494 Tahun 2019 tentang Pedoman Pencegahan dan Penanggulangan Kekerasan Seksual pada Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI).

Baca: Angkat Kasus Kekerasan Seksual, Dua Wartawan Lintas Dipukul

Setelah tim terbentuk, Lintas menyerahkan data itu ke pihak kampus untuk penanganan kekerasan seksual. Rujukan lain untuk penanganan kasus serupa adalah Peraturan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Nomor 30 Tahun 2021 tentang Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual di Lingkungan Perguruan Tinggi.

Di sini kampus harus membentuk satuan tugas, tim ini terdiri dari dosen, mahasiswa, dan ahli. Tim independen yang melibatkan mahasiswa dan ahli ini untuk menghindari konflik kepentingan dalam mengusut kasus tersebut.

“Namun kampus tetap memaksa dan meminta menunjukkan data tersebut,” kata Yolanda. “Saya menolak menyerahkan data sebelum tim penanganan dibentuk.”

Penolakan itu justru membuat Senat IAIN Ambon marah. Kepala Biro AUAK Jamaludin Bugis mengancam membredel Lintas karena tidak dapat menyampaikan data korban dan terduga pelaku. “Lintas akan dibubarkan setelah rektor datang,” kata Jamaludin, seperti yang ditirukan Taufik.

Baca: Rektor IAIN Ambon Bredel LPM Lintas

Keesokan harinya, Kamis, 17 Maret 2022 sekitar jam 06.30 WIT, sekretariat di Gedung Kembar lantai dua itu didatangi empat orang anggota satuan pengamanan. Kepala Satpam IAIN Ambon Abdullah Marasabessy, menyampaikan perintah Jamaludin agar anggota dan pengurus Lintas segera mengosongkan sekretariat.

“Kita diperintah Kabiro supaya rekan-rekan segera tinggalkan ruangan ini. Tutup pintu dan keluarkan barang-barang,” kata Abdullah. Mantan Direktur Utama LPM Lintas Yustri Samallo menanyakan perihal surat penyetopan aktivitas Lintas, namun Abdullah mengaku tidak mengantongi surat tersebut.

Sekitar jam 11.30 datang dua pegawai rektorat, salah satunya, Yusman Rumadan, menyerahkan Surat Keputusan Rektor Nomor 95 tahun 2022 tentang Pembekuan LPM Lintas.

Pada Jumat, 18 Maret lalu, sejumlah anggota satpam mulai berjaga di depan sekretariat Lintas. Keesokan harinya beberapa alat kerja, seperti komputer, printer, dan proyektor mulai diangkut dari kantor Lintas.

Buntut pembredelan Lintas ini terkait penerbitan majalah edisi dua, yang beredar sejak Senin, 14 Maret 2022. Liputan khusus itu menemukan 32 mahasiswa mengaku korban perundungan seksual. Di antaranya 25 perempuan dan 7 laki-laki. Tertuduh dalam kasus ini 14 orang. Di antaranya 8 dosen, 3 pegawai, 2 mahasiswa, dan 1 alumnus.

Share this :
About admin 512 Articles
Lembaga Pers Mahasiswa (LPM), organisasi internal kampus atau Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), bergerak dalam bidang jurnalistik—mencari, mengolah, menulis, mengedit, dan mempublikasi sebuah artikel ke khalayak melalui pemberitaan online, koran, dan majalah. Lintas berdiri pada tanggal 24 April 2011.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*