Polisi Panggil Dosen IAIN Ambon terkait Pemukulan Wartawan Lintas

Aksi Bungkam LPM Lintas IAIN Ambon di Jalan Ay Patty, Senin, 9 Maret 2018. LINTAS/Husni Tokomadoran

Reporter: Lintas.com
Editor: Ihsan Reliubun


LINTAS.COM — Kepolisian Sektor Sirimau, Kota Ambon, memanggil dosen Institut Agama Islam Negeri Ambon Yusup Laisouw untuk diperiksa terkait kasus pemukulan dua anggota pers mahasiswa Lintas. Kapolsek Sirimau Ajun Komisaris Polisi Mustafa Kamal, membenarkan panggilan kepada Yusuf pada Kamis malam, 7 April 2022 sebagai saksi.

“Nanti tinggal menunggu saja panggilan-panggilan berikutnya. Nanti dari keterangan-keterangan saksi yang bisa menjurus ke pelaku kan bisa terungkap,” kata Mustafa, saat dihubungi pada Kamis malam, 7 April 2022.

Sebelumnya, kasus pemukulan terhadap dua wartawan Lintas, yakni M. Nurdin Kaisupy, wartawan, dan Muh. Pebrianto, layouter majalah. Pemukulan terjadi pada Selasa, 15 Maret 2022. Sehari setelah pers mahasiswa ini menurunkan laporan kekerasan seksual bertajuk “IAIN Ambon Rawan Pelecehan”.

Dalam liputan tersebut, dilaporkan mengenai 32 orang yang mengaku menjadi korban pelecehan seksual di IAIN Ambon, terdiri 25 perempuan dan 7 laki-laki. Jumlah terduga pelaku perundungan seksual itu 14 orang. Di antaranya 8 dosen, 3 pegawai, 2 mahasiswa, dan 1 alumnus. Liputan pelecehan ini ditelusuri sejak 2017. Kasus itu berlangsung sejak 2015-2021.

Kekerasan yang menyasar Nurdin dan Pebrianto bermula ketika Yusup, Ketua Jurusan Sosiologi Agama Fakultas Ushuluddin dan Dakwah (Uswah), mendatangi sekretariat Lintas di Gedung Kembar lantai dua sekitar pukul 12 siang.

Kedatangan Yusup bertujuan bertemu penanggungjawab majalah supaya mengklarifikasi pernyataannya dalam artikel berjudul “Tutup Kasus Itu…”. Dalam berita ini, terungkap Yusup dua kali meminta salah satu korban, Mirna—bukan nama sebenarnya—menghapus dan tidak menyebarkan obrolan bernada mesum yang dikirim terduga pelaku pelecehan seksual, IL.

Menurut Yusup, pernyataannya di dalam berita berjudul “Tutup Kasus Itu…”, yang memaksa Mirna menghapus bukti chat IL, tidak sesuai fakta. Ia juga mempermasalahkan fotonya dimuat di majalah. Selain itu, Yusup menyebut konten Lintas melanggar kode etik.

Yusup pun mendesak Pebrianto dan Nurdin memanggil penanggung jawab majalah. Ia mengancam akan membawa keluarganya menyeruduk sekretariat Lintas jika tidak bertemu penanggungjawab majalah. “Sekarang telepon dong (mereka) datang kemari. Kalau tidak, wallahi billah, beta suruh masyarakat datang,” kata Yusup saat itu. “Beta kasih tahu ini, beta siap tanggung jawab.”

Sekitar lima menit setelah Yusup meninggalkan kantor Lintas, datang lima pria yang mengaku sebagai keluarga Yusup. Tiga di antaranya masuk dan menuduh pemberitaan kekerasan seksual tidak sesuai fakta. “Majalah itu isinya paling banyak menuai kontroversi, tidak sesuai fakta. Berita bohong, semua ada dalam majalah itu,” kata salah satu pria.

Mereka pun mengambil majalah dan membuka artikel “Tutup Kasus Itu…”. Seorang pria berkaus merah maron langsung membanting majalah di lantai. Melihat tindakan brutal ini, Nurdin menegur pria tersebut. “Itu artinya tidak menghargai katong (kita) punya karya,” kata Nurdin, yang juga Sekretaris LPM Lintas.

Namun lelaki itu menjawab: “Ini bukan tidak menghargai, tetapi ini mengenai nama baik keluarga.” Tak lama lelaki ini berdiri dan melayangkan tinju ke dada Nurdin. Di waktu bersamaan, Pebrianto pun ditendang pria tersebut karena merekam peristiwa intimidasi di sekretariat Lintas, itu. Kasus tersebut dilaporkan ke Polsek Sirimau pada Rabu, 16 Maret lalu dengan nomor TBL/47/III/2022/SPKT.

Tak hanya memukul dan menendang. Tiga pria yang mengaku saudara Yusup, mantan Sekretaris Jurusan Sosiologi Agama, itu memukul kaca jendela kantor Lintas hingga gugur dan berserakan di lantai. Mereka pun berusaha merangsek masuk kantor organisasi untuk kembali memukul Pebrianto dan Nurdin, tapi datang sejumlah anggota Lintas melerai.

Lintas menganggap proses hukum ini sebagai langkah tepat untuk menunjukkan siapa yang terbukti bersalah. Kekerasan terhadap pers mahasiswa bukan saja membunuh kebebasan akademik, kebebasan berekspresi, maupun kebebasan menyampaikan pendapat di muka umum, melainkan ikut mengamputasi hak masyarakat kampus untuk memperoleh informasi yang dijamin konstitusi.

Jika kasus kekerasan terhadap pers kampus bisa semena-mena, besar kemungkinan kasus yang sama akan terjadi di luar. Ini tidak boleh terjadi. Dan kekerasan terhadap pers harus dilawan karena aktivitasnya dilindungi undang-undang. Kita tidak boleh tunduk atas segala intimidasi dan kekerasan. Sekali tunduk, maka kejahatan terhadap pers akan terus terjadi. Dan demokrasi terancam mati.

Share this :
About admin 512 Articles
Lembaga Pers Mahasiswa (LPM), organisasi internal kampus atau Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), bergerak dalam bidang jurnalistik—mencari, mengolah, menulis, mengedit, dan mempublikasi sebuah artikel ke khalayak melalui pemberitaan online, koran, dan majalah. Lintas berdiri pada tanggal 24 April 2011.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*